Sabtu, 15 Oktober 2011

Facing My Giant-1: Bersepeda

Menjelang usia 32 tahun, gue bertekad belajar naik motor & karena banyak orang bilang better dimulai dengan bisa naik sepeda untuk keseimbangan dulu, akhirnya gue membulatkan hati untuk belajar naik sepeda.

Pergilah gue ke Taman Mini Indonesia Indah ALONE di siang bolong nyewa sepeda sambil bilang ama orang yang nyewain: “Mas, saya ga bisa bawa sepeda, loh. Ini ga bakal rusak gara2 saya kan?” (^_^). Maybe karena orangnya pengen dapet duit, dia langsung bilang gpp itu sepeda jatuh karena cukup kuat & bagus (dia ga mikirin klo gue yang jatoh ya?). Gue tuntunlah itu sepeda keliling cari tempat yang sepi buat bisa belajar. Orang2 di sepanjang jalan yang liat gue nuntun sepeda, menatap dengan heran karena ada sepeda kog ga dinaikin malah dituntun padahal bannya ga kempes jreng jreng jreng...

Gue dapet tempat yang lumayan sepi & memadai buat latihan bersepeda di Museum Al Qur’an. Mulailah perjuangan gue jungkir balik ama sepeda. Puji Tuhan, ga jatuh karena kan kaki gue cukup panjang untuk menapak jika keseimbangan goyah. Tanpa terasa 3 or 4jam gue latihan di sana. Tangan sampe merah2 karena menggenggam stang sepeda seakan nyawa gue ada di situ >:o) Tapi lama-lama mulai terbiasa berputar di sekeliling taman, mengayuh dengan kaku & nyelonong ke mana2 arah sepeda gue karena sulit sekali mengendalikan stang sepeda. Gue sampe mikir, ini stang kog ga nurut ama tangan & perintah gue huh... Akhirnya ga sia2 dink... entah si stang sepeda udah mulai paham siapa sang tuan or tangan gue yang udah bisa mengarahkan stang itu kemana.

Pulanglah gue dari TMII dengan sukacita karena pikir udah lumayan. Sampe rumah cerita2 ama keluarga & mama langsung teringat sepeda sepupu gue yang terbengkalai karena sepupu gue nyerah belajar sepeda setelah jatuh. Singkat cerita, sepeda itu diantar ke rumah gue sehingga hari2 berikutnya gue bisa latihan naik sepeda di seputar rumah tanpa harus jauh2 go ke TMII. Nah, berikutnya gue lebih pinter dikit: latihan naik sepeda pagi-pagi buta, jalanan masih sepi & yang terpenting: ga perlu gosong kena sinar matahari seperti kejadian di TMII. Hari demi hari berlalu, dari naik sepeda keringet dingin sampe naik sepeda bisa merasakan sejuknya angin pagi yang bersih. Akhirnya gue menikmati olahraga bersepeda di pagi hari. Rasanya badan luarbiasa segar. Beberapa tips belajar sepeda:

1. Cari jalanan yang sepi cukup lebar karena kalo belajar pertama kali, mengendalikan stang sepeda rasanya cukup sulit sehingga kalo itu sepeda nyelonong kemana-mana, ga akan nabrak kendaraan atau orang atau pagar. Sebisa mungkin cari waktu yang tidak terlalu panas, wong cuaca dingin aja, pemula bisa keringetan saking frustasinya menjaga keseimbangan.

2. Kalo bisa dapat tempat yang agak menurun, bisa mulai belajar tanpa mengayuh. Latihan keseimbangan aja. Duduk di sadel sepeda, kedua tangan menggenggam stang (jari manis+kelingking+jempol kiri pegang stang kiri sementara telunjuk & jari tengah pegang rem), kedua kaki berada dekat jalanan, dorong sepeda dengan gerakan badan bertenaga condong ke depan (kedua kaki berjaga2 siap2 menjejak kalo merasa ga seimbang). Fokus aja gimana bisa mengendalikan stang & menyeimbangkan kedudukan tanpa harus mengayuh.

3. Kalo harus mulai belajar di jalanan yang rata (pastiin ga banyak batu/kerikil/lubang), pegang stang dalam posisi lurus & cari posisi duduk senyaman mungkin dengan 1 kaki diletakkan di kayuhan (kalo gue si taro kaki kanan di kayuhan), sementara kaki kiri menjejak di jalanan, membantu mendorong sepeda maju. Ketika keseimbangan sudah mulai terasa, pelan2 angkat & tarohlah kaki kiri di kayuhan lalu mulai mengayuh sepeda. Gpp kalo arahnya belok-belok alias ga lurus, genggam stang & dengan tenaga coba untuk kendalikan lurus ke arah yang kita mau. Kalo sudah mo jatuh, ya rem sambil turunin aja kedua kaki. Sebisa mungkin stang diarahkan ke jalan yang lebar sambil terus mengayuh & jangan terlalu cepat untuk ngerem atau menurunkan kaki karena takut jatuh. Makanya penting sekali jalanan harus sepi ga ada orang lalu-lalang or kendaraan berseliweran. Semakin lebar jalanan akan makin baik krn biasanya arah kayuhan ga terkendali jadi meliuk ke sana kemari & itu gpp, kayuh aja terus (sebaliknya, kalo jalanan sempit akan lebih cepat mengerem). Semakin lama berhasil mengayuh, semakin kita akan bisa mengendalikan stang sepeda itu sesuai kemauan kita.


4. Kalo udah mulai mantap dengan jalan lurus, belajar membelok. Kalo merasa goyang & gamang, turunin aja 1 kaki pelan2 belokkan stang ke arah yang kita mau. Kalo udah terbiasa, kayuhan dipercepat beberapa saat sebelum belok, sehingga di belokan justru tidak perlu mengayuh lagi, hanya perlu meletakkan kaki di kayuhan dalam posisi diam, badan condong ke arah belokan (sebaliknya, pinggul didorong ke arah berlawanan dengan belokan), untuk mengikuti arah belokan. Setelah jalan lurus lagi, jangan lupa luruskan posisi badan & pinggul juga ya.

Selesai deh... walau sangat terlambat mulai belajar bersepeda di usia menjelang 32 tahun, rasanya sangat bersyukur Tuhan masih kasih kesempatan bisa menikmati olahraga sepeda sepanjang sisa umur gue. Perjalanan bisa mengendarai motor masih sangat panjang tapi 1 step berhasil dilewati & dinikmati hahaha Ora et labora, berdoa & berusaha maka ga ada yang mustahil, facing my giant bagian 1 selesai, HOREEE Praise The Lord!!!

Kamis, 07 Juli 2011

TIMMY


T immy nick namenya
I ndah dentingan pianonya
M akanan kesukaannya adalah nasi
O gah berantakan
T erencana banget hari2nya
I mut2 senyumnya
U saha berteman dg siapa aja
S erius, S aingan De" rebutan makan

A nne nama nyokapnya
B okapnya bernama Christian
D eus adiknya
I mannya terus bertumbuh dalam keluarga yg mengasihi Tuhan
E sa & Tritunggal Allahnya
L iat Alkitab online satenya

K eliatannya pendiam
A slinya sih bisa rame menggemaskan (makin lama moodnya makin stabil)
R amah ke semua (sejak mempraktekkan buku komunikasi hwhwhw)
T eriakannya bisa ngagetin orang mati =.=
A liran netral di Tura (ga nge-gank, ruarrbiasaa)
W ow... cool-boy (pas lagi diem2 observe lingkungan)
I nisiatif, ga perlu disuruh
J iwa sosialnya genetik kali ya? ^_^
A kan terus berjuang di Texas
Y up yup lagi cemas dapet banyak temen bule
A argggghhhhhhh we'll miss u, selamat jalannnnnnnnn, Timmy...

Senin, 13 Juni 2011

Meninggal Dadakan

Kemaren senja keluargaku dikagetkan dengan berita bahwa papa dari teman gereja dadakan meninggal. Jadi, sedang jalan-jalan di Mall Taman Anggrek lalu tiba-tiba jatuh/pingsan, langsung dibawa ke Rumah Sakit di daerah Grogol. Melihat badannya yang kurus, ga nyangka sama sekali ada penyakit jantung yang dadakan bisa merenggut nyawanya ketika sedang jalan-jalan bersama keluarganya.

Walau otak manusia tahu bahwa tiap orang dapat meninggal kapan saja, tetap aja pasti hati keluarga yang ditinggalkan terasa berat mengalami kehilangan yang sangat mendadak. Beda dengan kehilangan yang disebabkan oleh sakit berkepanjangan yang sedikit-banyak telah mempersiapkan keluarga akan kehilangan suatu saat nanti.

Tapi satu hal yang indah adalah di Minggu pagi itu, papa temanku itu masih ibadah ke gereja seperti tiap Minggu biasanya. Kematian seseorang yang setia mengikut Kristus seumur hidupnya adalah suatu teladan yang bergaung dalam hati tiap pengikut Kristus yang masih dikasih izin ngontrak di dunia ini. Sebelum meninggal, almarhum sedang berjalan-jalan bersama keluarga anak bungsunya. Ia bukan hanya teladan mengasihi Tuhan tapi juga teladan dalam menggunakan waktu berkualitas bersama-sama keluarga. Bahkan sampai umur 68tahun, dia masih berdagang bersama istrinya.

Tuhan memandang berharga kepulangan almarhum papa temanku itu kembali pada-Nya di Sorga. Walau dunia kehilangan dia, tapi teladan sikap hidupnya setia sampai akhir pada Sang Juru Selamat, akan terus menjadi mercu suar bagi dunia yang sulit mencari "kesetiaan". Aku bertanya, jika Tuhan memanggilku dengan mendadak, sudahkah aku dengan setia menyelesaikan tiap hal dalam aspek hidupku yang DIA percayakan padaku?

Guruku Sang Pengamen

Beberapa hari yang lalu sepulang pelayanan kampus, aku ketemu pemuda yg ngamen di bis kota. Kutimang2 sekotak kopi cair nescafe di tas-ku. Kupikir perjuanganku yang harus melayani lagi sampe larut malam akan membutuhkan energi extra dari kopi. Tapi akhirnya ketika pengamen itu menyodorkan kantong plastik untuk meletakkan uang receh, sambil senyum kutawarkanlah sekotak kopi tersebut, "mas, mau ini ga?" dan senyumnya langsung merekah sumringah, mengatakan "mau, terimakasih banget ya mbak." Dia mengulang kata itu berkali-kali. Kemudian setelah slesai ngedarin kantong sampe bangku terakhir, dia kembali padaku & bilang TQ beberapa x lagi sambil mendoakan keselamatanku dalam perjalanan. Terus dia pergi dan aku ga nengok-nengok lagi sampe ternyata dia masih di belakang & begitu mo turun, dia nyamperin aku, pamit sambil bilang makasih lagi, mukanya bahagia banget.

Malamnya, kejadian tadi membuatku merenungkan. Gila, dia bisa tersenyum & merasa sangat berterimakasih dengan bahagia, kelihatan banget sukacitanya hanya karena sekotak kopi cair seharga 3200rp. Dalam hati aku mulai bertanya, apa yg membuatku bisa berulang-ulang mengucapkan terimakasih dengan sukacita yg meluap-luap? Kalo sekarang ini aku & adik2 bisa mulai pindahan rumah ke kontrakan, itu benar-benar anugerah God karena rumah lama ga perlu roboh semuanya dulu untuk kami renovasi. Tapi ketika menjalani anugerah itu, sikap eksternal ternyata sangat mempengaruhi emosi kami bahkan mulai mengurangi rasa syukur kpd Tuhan itu. Thx God, yang mengajarku bersyukur & bersukacita melalui seorang pengamen yang tahu bersyukur :) Keep CIA YOU day by day...

Kamis, 21 Januari 2010

CaRa MaTi

Kemaren di angkot pagi gue mikir kira-kira kematian gue bisa dengan cara apa aja. Ternyata buanyak buanget kemungkinan caranya. Iseng-iseng gue jadi pengen bikin list cara-cara kemungkinan mati yang terpikir sebagai berikut:
1. Lagi berenang tanpa sadar ke tempat dalam lalu tenggelam krn ga ada tempat berpijak
2. Lagi tidur, kebakaran ga bisa keluar rumah, mati hangus
3. Lagi makan enak, keracunan then mati
4. Serangan jantung
5. Divonis kena penyakit terminal (yang udah pasti mati)
6. Lagi duduk di kursi cadangan angkot, angkot belok kiri & hilang keseimbangan, angkot jatuh miring kiri, gue ketiban seluruh penumpang angkot & jadi dendeng gepeng
7. Lagi duduk di angkot paling dalem biar aman tapi ditabrak truk yang melaju kencang, gue kegencet truk jadi tempe penyet
8. Nyebrang jalan, terserempet Bus, terlempar & kepala kena trotoar, kayak semangka pecah
9. Nyebrang pake jembatan penyebrangan lalu tiba-tiba tuh jembatan roboh, gue jatuh sementara di bawahnya ada tronton lewat, hancurlah seluruh badanku
10. Ketawa terbahak-bahak, tiba-tiba ga bisa nafas, mati
11. Lagi duduk di depan rumah, ada mobil nyelonong dikemudikan orang mabok, mati deh gue
12. Lagi naek tornado di dufan, pas kepala gue di bawah, sabuk pengaman putus, jatuhlah diri gue
13. Lagi turun tangga kantor, nenteng plastik, plastik jatuh keinjek gue lalu terpeleset bedebam-bedebum sampe bawah udah ga bernyawa
14. Lagi duduk kerja di kantor tiba-tiba ada pesawat jatuh nimpa ruko gue
15. Gempa & bumi menganga menelan gue
16. Angin gede banget, bajaj gue ketimpa pohon besar yang tumbang
17. Lagi jalan kaki di deretan perumahan Ijen (banyak pohon kelapa), tiba-tiba kejatuhan buah kelapa, tewas
18. Ditusuk ama perampok yang mo ambil dompet gue yang kosong
19. Ketemu klien psikopat, dimutilasi
20. Softlens copot, ga bisa liat apa-apa jatuh ke lobang yang ada paku, menusuk tangan lalu tetanus ga keburu diobatin, mati deh
21. Lagi pake kacamata, jatuh kedorong orang dari eskalator mall yang ruamai, kacamata pecah dan menusuk mata, berdarah & geger otak
22. Lagi jalan di pinggir rumah tengah danau Cianjur, hilang keseimbangan, kecemplung & kepala kebentur bambu runcing hiks tak tertolong lagi
23. Lagi nonton di rumah, terlalu tegang (or antusias), masuk rumah sakit, koma, meninggal
24. Digigit tikus, meninggal karena shock
25. Lagi camping di curug panjang, tiba-tiba ada banjir bandang
26. Lagi maen di water outbound Atlantis Ancol, kepala terbentur pinggir kolam waktu nyoba jalan di atas ban kuning
27. Lagi cabut gigi geraham bungsu, kena syaraf langsung ke otak, mati di tempat
28. Lagi benerin kabel laptop, kesetrum, mati kering
29. Lagi enak makan kikil, tersedak kikil, ga bisa nafas, tewas deh
30. Lagi antri di halte busway, kedorong orang, jatuh keluar pas ada Bus Trans lewat, tergilaslah diriku
31. Lagi khotbah tiba-tiba ada bom meledak di gereja (jangan sampe deh)
32. Lagi masak, kompor tiba-tiba meledak
33. Lagi baca koran di rumah tiba-tiba lantai 2 ambruk nimpa gue
34. Lagi jalan di trotoar lalu ada motor nabrak, badan gue jatuh ke pagar berduri yang membatasi jalan
35. Lagi tidur, ga bangun lagi


Sebenarnya masih bisa dilanjutkan jadi 1001 cara kemungkinan gue mati (dan semuanya bersifat "kecelakaan", bukan dirancang) tapi cape ngetiknya =.= Gue akhirnya merasa dengan sangat banyaknya kemungkinan gue bisa mati, maka bisa hidup itu adalah anugerah Tuhan yang luarbiasa! Tiap bangun tidur dan masih hidup, WOW, itu suatu karunia! Masih ada 1 kesempatan yang Tuhan berikan untuk gue kerjakan bagi-Nya di dunia ini.

Endingnya, tak peduli cara mati seperti apa pun, yang pasti semua anak Tuhan pasti meyakini Filipi 1:21-22 "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah." So, cara mati yang tidak diperkenan Tuhan adalah: bunuh diri dengan cara apapun! Karena hidup adalah anugerah & tanda bahwa Tuhan Sang Pencipta masih kasih kekuatan bagi kita untuk melangkah bersama-Nya sesulit apapun itu. So, Keep CIAYOU!!! GanBATTE!! Mari terus berjuang! Immanuel...

Rabu, 20 Januari 2010

JOY

Tanggal 20 Desember gue khotbah di 2 kebaktian. Setelah khotbah pertama, di ruang konsistori gue mengecek hp dan mendapat berita mengagetkan. Anak baptis gue yang baru berusia 2tahun 3bulan (Joy) meninggal pagi itu di Papua. Gue langsung telepon mamanya (saudara KTB gue) tapi ga bisa ngomong banyak karena dia nangis terus. Gue langsung meng-cut semua emosi yang muncul dalam hati gue karena masih harus khotbah ke-2 dalam beberapa menit ke depan.

Setelah selesai semuanya, gue baru bisa merenung. Joy sesuai dengan namanya, selalu membawa sukacita bagi orang-orang di sekitarnya, jadi yang tiap hari kontak dengannya pasti luarbiasa kehilangan :=.=: Rasanya hati ini miris banget melihat CD lagu & barang-barang yang belum sempat gue kirim ke Papua untuknya. Selama ini gue selalu menunda mengirim karena pengen memberikan lebih banyak dan lebih baik lagi ke dia dan orangtuanya. Walhasil semuanya terlambat! Joy tidak akan pernah melihat "pemberian gue" lagi. Dia sudah tidak membutuhkan itu lagi. Dia sudah mendapatkan kekekalan bersama Tuhan Yesus, sesuatu yang dirindukan oleh semua orang.

Gue ga mo nunda lagi, di jam pemakaman Joy di Jakarta, gue ga bisa datang tapi setelah pemakaman selesai, gue ke rumah ortunya di Jakarta. Pemberian yang tertunda, gue langsung berikan ke ortunya. Tapi tidak tertulis untuk Joy, yang ada hanyalah untuk ortu & adiknya yang masih berusia 2 bulan. Kita tidak tahu sampai kapan kita hidup di dunia ini. Jadi, selama ada waktum, berbuat baiklah kepada orang-orang yang kau kasihi dan mengasihimu. Karena semua penyesalan selalu datang terlambat! Jangan pernah menunda menebarkan kebaikan... hidupku?
hidupmu? hidupnya? hidup mereka? Semua tak tahu sampai kapan...

Gigi Oh Gigi

Akhirnya, bisa nulis lagi setelah absen berapa lama ya? hehehe Kemaren gusi bengkak & sakit banget. Bayangkan! Patin bakar, patin tim, tahu tempe & sambel yang luarbiasa lezat gue makan dengan menahan sakit. Jadinya ga nafsu buat nambah. Gue pikir lebih baik sakit ati daripada sakit gigi karena kalo sakit gigi, semua orang rasanya bikin gue sakit ati (jadi sakitnya double). Tambahan lagi, kalo sakit gigi, ga bisa makan yang gue mau sementara kalo sakit ati, rasanya bolehlah cari makan enak buat menghibur diri ^_&

Gara-gara ponstan gue bisa tetep senyum walau masih cenat-cenut. Karena ga tahan, gue pergi ke dokter gigi. Ternyata Pdt.P punya istri dokter gigi (drg) so gue kesana. Ngomong punya ngomong ternyata sang drg itu cicinya majelis gereja gue sementara majelis tersebut murid papa gue dulu. Owalah, dunia ini terasa begitu sempit. Weitz bukan itu denk yang mo gue ceritain. Sang drg itu me-rontgen gigi gue dan ditemukanlah bahwa geraham bungsu kanan atas gue tumbuh agak miring dan mendorong gigi di sampingnya sehingga gusi membengkak. Sang dokter bilang kalo gue ke dokter lain, pasti disuruh operasi cabut gigi. Dia cabut gigi gue dengan hanya memberikan anestesi yang luarbiasa banyak sampe gue udah ga berasa apa2 lagi deh. Terus, dia mulai mengeluarkan tenaga buat nyabut gigi gue. Ihhhhh gue sampe merem, ga berani liat. Asli, menakutkan banget, wong gigi gue masih kuat. Waktu udah keluar, gue liat akar gigi gue begitu panjang & kokoh huhuhuhu yang luarbiasa si dokter berhasil mencabutnya tanpa harus mengoperasi gue!

Sampe rumah gue ceritain kejadian tersebut dan anggota keluarga gue pada bilang luarbiasa si dokter itu berani sekali. Selama ini gue pikir keberanian selalu bersangkutan dengan melakukan sesuatu yang tidak biasa. Ternyata melakukan suatu tugas sehari-hari seperti si dokter ini pun membutuhkan keberanian! Karena tidak semua dokter dapat mengeluarkan keberanian untuk melakukan hal sejenis. So, gue belajar untuk menghargai keberanian yang Tuhan kasih ketika gue melakukan hal-hal yang rutin or tampaknya biasa di mata orang lain, karena sebenarnya banyak sekali unsur keberanian yang terpendam dari sebuah hal yang tampak biasa. Hhhh gue masih merasa kehilangan si gigi geraham bungsu tapi gue terhibur dengan perkataan dosen gue ketika gue minta dia mengilustrasikan gigi: "Gigi seperti om tua yang galak, sombong n enggak tahu diri. Esok kelak tempatnya tidak mengenal dia lagi." Bener juga ya...tempat gigi gue berada dulu, sekarang sudah tidak mengenali sang geraham bungsu lagi...betapa fana-nya gigiku... oh...