Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Mei 2009

Faith Like Potatoes

Akhirnya gue bisa nulis lagi. Kemaren sempet nonton 1 film berjudul Faith Like Potatoes. Hmm gimana ya? Film itu rada lambat alurnya jadi bagi orang yang lagi capek kalo nonton itu, better jangan nonton sambil berbaring deh, nti ketiduran beneran hehehe soale gue dan adik gue lomba menguap saking dah capek seharian tapi memaksa diri nonton karena selain Minggu, tiap hari TV dimonopoli nyokap huahahaha ^_^

Ceritanya tentang Angus Buchen, seorang petani Skotlandia yang merantau ke Afrika Selatan (ke suku Zulu). Angus yang workhaolic mengalami banyak kehilangan dan frustasi terhadap hidup. Dari segi psikologi, dengan kerja 18 jam/hari, wajar kalo dia stres dan emosinya tidak stabil, mudah marah (sampe disuruh minum obat penenang). Ketika akhirnya Angus menerima Tuhan Yesus, kedamaian mulai muncul dalam hatinya. Bukan berarti masalahnya dilenyapkan Tuhan karena kenyataannya, ia tetap bergumul dengan banyak kehilangan dan perasaan-perasaannya, tetapi damai sejati itu telah mengubah paradigmanya terhadap kesulitan hidup. Angus mencontohkan bagaimana berjalan bersama Tuhan dengan iman yang terus bertumbuh.

Gue ga mo membahas adegan dalam film ini terlalu banyak. Yang pasti, film itu membuat gue merenung tentang arti IMAN. Apakah meminta dengan iman = pasti mendapatkan apa yang diminta? Apakah orang beriman beda tipis (kalo ga mo dikatakan "mirip") dengan orang yang bodoh? Apakah mukjijat selalu berlawanan dengan logika? Apakah orang yang beriman & melihat mukjijat/karya Tuhan, hampir selalu harus mengesampingkan perhitungan rasio? Di mana batasnya beriman dengan "mencobai Tuhan"?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepala gue setelah selesai nonton tuh film. Yah, jadi semacam perenungan sebelum bobo lahh :D Film yang berdasarkan buku & kisah nyata itu, rasanya boleh dijadikan bahan diskusi di gereja or persekutuan. Pada akhirnya, diharapkan komunitas anak Allah dapat belajar beriman. Angus beriman meminta hujan dan dia berharap kentang bisa tumbuh di tempat yang semua orang udah bilang ga mungkin tumbuh karena penuh debu & sangat kering. Pendetanya Angus mengatakan, "Terlalu tipis bedanya antara iman dan kebodohan. Apakah kamu yakin Tuhan menyuruhmu menanam kentang? Kalo kamu yakin, ceritakan padaku dan aku pasti akan mendukungmu." Angus tidak dapat memastikan kalo God langsung menyuruhnya menanam kentang, dia hanya merasakan suatu beban. Adik gue mengucapkan 1 kalimat ketika menyaksikan iman Angus, "Kenapa dia harus mempertaruhkan semuanya? Boleh ga sih kalo dia menanam kentang setelah turun hujan?"

Gue tertawa waktu adik gue bilang gitu dan gue mencetuskan kalimat, "Ga bisa begitu, kalo nunggu ujan turun & mereka baru menanam, sudah terlambat dong. Harus menanam dulu & beriman kalo hujan akan diberikan God." Banyak orang berpikir kalo seandainya Tuhan mengatakan kehendakNya pada kita secara langsung, pastilah kita dengan mudah akan mengambil langkah mengikut DIA. Tapi di zaman sekarang, terlalu banyak kesulitan hidup dan kotak "tidak mungkin" yang membatasi kepekaan kita terhadap kehendakNya.

Kadang kehendak Tuhan tidaklah terlalu jelas di awalnya, tapi kalo kita berani mengambil langkah iman, step by step selanjutnya yang akan mengonfirmasi apakah langkah yang kita lakukan itu berasal dari keinginan diri kita sendiri atau dari Tuhan. Jangan berharap Tuhan mengerjakan semuanya dulu bagi kita kalo kita sedikit pun tidak mo memulai pekerjaan yang Tuhan taroh itu sebagai beban dalam hati kita. Kalo salah langkah? Jangan kuatir...Roma 8:28 yang menjanjikan bahwa Allah sanggup mengubah apapun yang terjadi dalam hidup kita untuk kebaikan kita kalau kita hidup mengasihi DIA dengan tulus hati. Sangat menguatkan, bukan? Bagi Tuhan, tidak ada istilah terlambat or salah jalan yang tidak dapat dipakaiNya dan diubahNya menjadi bagian rencanaNya. Asik banget, kan?! Met berjalan dalam iman bersamaNYA yaaaa....

Rabu, 18 Maret 2009

Fireproof: Never Leave Your Partner Behind

Fireproof adalah film yang dibuat oleh tim yang sama dengan yang membuat film Facing the Giants. "Never leave your partner behind" adalah slogan yang selalu diajarkan oleh Caleb sebagai kapten regu pemadam kebakaran. Ia merasa dihormati di mana pun ia berada (karena ia seorang pahlawan yang sering menyelamatkan orang), kecuali di rumahnya sendiri oleh istrinya. Mereka sering bertengkar sampai di satu titik Cate tidak tahan lagi dan mengajukan perceraian.

Keluhan Caleb: Cate selalu komplain, tidak pernah puas, tidak menunjukkan sedikitpun respek atau menghargainya sebagai suami, tidak becus mengurus rumah. Keluhan Cate: Caleb egois (sibuk dengan hobi internet & selalu menghabiskan 1/3 gaji untuk membeli kapal yang menurutnya tidak berguna), tidak mengerti kebutuhannya, tidak bersedia mendengarkannya, tidak menolongnya sama sekali dalam mengurus rumah padahal ia harus bekerja penuh waktu dan harus mengurus ibunya yang stroke di akhir pekan.

Mereka sudah menikah selama 7 tahun, dulu saling mencintai tapi sekarang merasa percuma mempertahankan pernikahan dengan pasangan yang telah berubah. Orangtua Caleb datang dari luar kota, Ayahnya berhasil membuat Caleb berkomitmen menunda perceraian selam 40 hari dan selama waktu itu, akan mengikuti semua petunjuk yang ada di buku yang akan dikirimkan ayahnya kepadanya (gue mikir kenapa pake 40 hari ya? Seperti Purpose Driven Lfe aja)

Di sini nih menariknya film ini. Caleb seperti menghitung hari karena dari buku itu, dia mendapat tips-tips praktis dalam memperbaiki relasi dengan pasangan, misalnya: 1 hari, ia tidak boleh mengucapkan kalimat negatif pada pasangan. Ia hanya boleh mengucapkan yang positif, kalo marah dia harus diam saja, ga boleh ngomong hal negatif. Hari berikut dia harus melakukan sesuatu untuk istri. Dia memutuskan bikinin istri teh/kopi. Istrinya pagi-pagi langsung pergi dan tidak peduli dengan teh/kopi yang dia buat. Hari lain dia harus memberikan sesuatu, mengirimkan apa saja untuk pasangan di kantor. Ia membeli bunga & coklat termurah. Respon istrinya juga apatis banget, abis bunganya jelek seh hahaha... Dia bertahan terus walau berkali-kali telpon ayahnya saking bete dan putus asa menghadapi sikap dingin Cate. Ayahnya sangat luar biasa dalam menyemangati Caleb. Sampai di hari ke-23 ia sudah melakukan semua petunjuk dan istrinya datang mengutarakan kebingungan sekaligus kecurigaannya diakhiri dengan nada dingin bahwa dia tetap ingin bercerai. Caleb marah sekali dan ketika dia memutuskan mengakhiri semuanya, ayahnya berjanji akan datang esok hari.

Waktu ayahnya datang, Caleb mengutarakan rasa ga enaknya karena ayahnya tinggal jauh di luar kota. Mereka jalan-jalan di sebuah taman yang ada salib besar di tengahnya. Ayahnya kembali berusaha bicara tentang Yesus kepada Caleb. Caleb kembali memotong pembicaraan ayahnya karena merasa tidak ada relevansi antara pernikahan dengan Yesus. Ayahnya akhirnya menanyakan, "Apa yang kamu keluhkan tentang Cate?" Kurang lebih begini jawaban Caleb, "Cate tidak menghargaiku, Aku berusaha menjalankan semua yang ada di buku tapi responnya dingin, dia seperti meludahi semua perbuatan baik yang kulakukan untuknya, Aku menunjukkan ingin mempertahankan pernikahan kami tapi ia terus mencurigaiku, ia tidak menginginiku dan ia tidak mencintaiku." Tepat ketika Caleb menyelesaikan perkataannya, ia menatap ayahnya yang berdiri di bawah salib! Caleb terpana ketika ayahnya berkata, "Bukankah itu yang DIA terima dari kamu?" Caleb menggelengkan kepala dengan panik dan berkata, "Tidak seperti itu." Caleb terus menggelengkan kepala dan menunduk ketika ayahnya datang dan mengatakan, "Kamu tidak dapat mencintai Cate kalau kamu belum merasakan cinta Yesus dalam hidupmu. Sadarkah kau sekarang bahwa kau membutuhkan DIA?" Di momen itulah Caleb menerima Tuhan Yesus.

Cerita terus berlanjut, mengharukan melihat apa yang Caleb lakukan untuk terus mencintai Cate yang jelas-jelas menunjukkan tidak lagi mencintainya. Cate juga bukan seorang Kristen dan selalu menghindari topik pembicaraan tentang kebutuhannya akan Yesus. Gimana akhir cerita ini? Nonton sendiri lebih baik ya. Yang pasti gue setuju banget dengan pesan film ini: orang yang tidak pernah merasakan cinta Kristus yang luar biasa dalam hidupnya, tidak akan mampu mencintai orang lain seperti Kristus mencintai. Cinta manusia cenderung pamrih & menuntut balasan tapi cinta Kristus dibuktikan kepada kita justru ketika kita masih berdosa dan berbuat jahat padaNya. Orang di luar Kristus bisa aja bertahan dalam sebuah pernikahan karena berbagai sebab, tapi sesungguhnya pernikahan Kristen yang sesungguhnya (kasih yang berkorban bahkan di saat pasangan sepertinya tidak layak mendapat pengorbanan itu) hanya mampu bertahan bila orang yang di dalamnya telah merasakan anugerah Allah melalui cinta Yesus Kristus yang mati di kayu salib untuk manusia berdosa yang percaya padaNya. Gue rekom film ini buat mata kuliah terapi keluarga or Bimbingan Pra-nikah or Keluarga Kristen. Met nonton buat yang belum nonton & thanks to Ar yang udah minjemin film ini secara mendadak (ga merasa gue todong kan?) hehehe...

Senin, 02 Maret 2009

Slumdog Millionaire


Gue udah tertarik nonton sejak dinominasikan 10 Oscar dan tambahan lagi, Sam rekomendasiin film ini di YC. Akhirnya, Sabtu kemaren gue bertekad buat nonton j2.30pm di MOI eh tau2nya j2.15pm, selesai pelatihan guru-ortu, gue baru bisa go dari kantor! Panik banget, udah ujan, gue nunggu taxi ga lewat-lewat sampe 3 orang kantor ikutan prihatin ama gue hehehe thanks God, gue yang ekstrovert, kebiasaan menyebarkan pokok doa ke teman-teman via sms karena di dalam taxi abis doa pun kejebak macet, booo! Dari situ, God kirim teman yang kebetulan lagi kejebak macet di depan MOI untuk langsung menelepon gue & menawarkan pertolongan masuk ke MOI & beliin tiket dulu buat gue! Jadi, begitu sampe MOI, gue langsung masuk teater karena film sudah dimulai (untungnya, belum terlalu lama). Two thumbs up buat film ini, ga heran memenangkan 8 Oscar!

Ringkasan ceritanya tentang seorang pemuda miskin bernama Jamal Malik yang memenangkan 10 Juta Rupee dalam acara kuis Who Wants To Be A Millionaire (versi Indonesia, dipandu Tantowi Yahya). Aslinya di India, kuis ini dipandu oleh Amitabh Bachchan, tetapi di film diperankan oleh aktor yang mirip (entah karena film ini ga sanggup bayar Amitabh Bachchan, or karena si Amitab Bachchan ga mo berperan jadi pemandu kuis yang "paranoid" itu he
hehe). Slumdog itu ternyata artinya anjing kumuh, sebutan untuk gelandangan. Karena Jamal seorang slumdog, si pemandu kuis curiga Jamal curang sehingga memanggil polisi. Kasian banget deh si Jamal sampe disetrum, disiksa oleh polisi. Dari adegan ini, di India gue rasa ga berlaku azas "praduga tak bersalah" tetapi sebaliknya: "praduga bersalah" sampai tersangka terbukti tidak bersalah. Film ini penuh flashback yang menceritakan kisah masa kecil & remaja Jamal yang membuatnya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam kuis. Berikut pelajaran yang bisa diambil dari adegan-adegan yang ada:

1. Pertanyaan pertama dari kuis: "Siapa aktor India terkenal tahun 70-an?" Jam
al bisa jawab karena di masa kecil, Jamal lagi berlama-lama "nongkrong" WC umum, sampe kakaknya (Salim) yang terima bayaran dari WC umum, harus kehilangan pelanggan yang mo pake tuh WC. Salim bete dan mengunci Jamal di WC waktu ada helikopter yang mengantar Amitabh Bachchan ke kampung kumuh mereka. Akhirnya, Jamal dengan menatap foto Amitabh Bachchan, membulatkan tekad keluar dari lobang pembuangan kotoran manusia! Dengan badan penuh kotoran dari ujung kepala sampe kaki, Jamal berhasil mendekati Sang Idola tanpa kesulitan karena semua orang yang berkerumun langsung menyingkir & memberi jalan buat Jamal yang berlumuran kotoran meminta tandatangan sang idola hahahaha ini adegan sangat kocak. Gue kagum ama kecerdasan Jamal dan yang pasti: SEMANGAT TIDAK MENYERAH SAMPE MENDAPATKAN APA YANG DIINGINKANNYA DENGAN MENGORBANKAN DIRINYA SENDIRI. Dari kecil aja udah begini, gue sangat antusias menyaksikan pelajaran-pelajaran berikutnya dari seorang Jamal. Sebenarnya, Salim (kakak Jamal) juga punya semangat mendapatkan apa yang diinginkannya tapi dengan cara mengorbankan orang lain! (ia menjual foto bertandatangan artis yang notabene milik Jamal itu). Di sini udah mulai tampak perbedaan karakter kedua kakak-beradik ini.

2. Pertanyaan kuis kedua, gue lupa tapi sangat gampang tapi justru Jamal ga bisa jawab dan menggunakan bantuan "ask the audience" (yang suka nonton kuis ini, pasti ngerti maksudnya). Sang Inspektur polisi yang memeriksanya berkata, "Anakku yang umur 5 tahun aja bisa menjawabnya, kenapa kamu ga bisa?" Jamal menjawab dengan memberikan banyak pertanyaan balik kepada inspektur yang tak satu pun bisa dijawab si polisi dan akhirnya Jamal mengatakan "Semua anak umur 5 tahun di daerahku bisa menjawab itu." Pelajaran: Tiap orang unik karena dibesarkan dari latarbelakang keluarga, pendidikan dan ekonomi yang berbeda-beda. Seseorang yang pandai di satu bidang, belum pasti pandai di bidang yang lain, dan sebaliknya. Don't judge a book by it cover kayaknya berlaku di sini deh.

3. Ada pertanyaan, "Apa yang dipegang oleh tangan patung Rama?" Ini melempar penonton ke adegan Jamal kecil sedang main bersama Salim sementara ibunya mencuci baju di sungai. Tiba-tiba ada kerusuhan mencekam antara pengikut Hindu-Islam. Jamal menyaksikan ibunya meneriakinya untuk lari menyelamatkan diri dan dengan mata kepalanya, ia menyaksikan ibunya dibunuh. Ketika ia dan Salim melarikan diri, ia bertemu patung Rama (or anak kecil yang dijadikan patung ya?), kejadian itu sangat terekam otaknya karena ia jelas melihat Rama itu menggenggam apa. Jamal dengan sedih berkata di depan polisi, "Aku berharap seandainya aku tidak tahu jawaban pertanyaan itu. Jika waktu itu aku tidak bertemu Rama, mungkin ibuku masih hidup." Lanjutan kejadian itu, Jamal & Salim berjumpa dengan Latika, anak perempuan gelandangan yang kehilangan keluarganya gara-gara kerusuhan. Salim tidak ingin membawa Latika sementara Jamal yang lembut hati tidak tega menyaksikan Latika kehujanan dan mengizinkannya bergabung. Akhirnya mereka bertiga hidup sebagai gelandangan. Pelajaran: Jangan biarkan kesulitan hidupmu menghalangimu merasakan kesulitan orang lain. Konsep Jamal: "Menggandeng orang lain yang sedang kesulitan akan membagi dua kesusahan (mengurangi kesulitan)." Sementara konsep Salim: "Kesulitan orang lain akan membuat kesulitan hidup kita bertambah jadi double." Yang mana konsep gue & lu? ^_^

4. Pertanyaan "Siapa pengarang lagu ... ?" (gue lupa hihihi). Jamal mengingat masa kecilnya sebagai 3 slumdog yang "ditemukan" oleh Maman. Mulanya mereka berpikir kalo Maman seorang malaikat padahal mereka sedang direkrut buat jadi pengemis jalanan (kayak di Jakarta banget gitu loh). Nah, Maman punya rencana khusus buat anak yang mampu nyanyi (salah satunya Jamal). Salim ga bisa nyanyi tapi punya bakat jadi mafia jadi Maman mengangkatnya untuk ngatur anak-anak lain. Salim liat dengan mata kepalanya sendiri salah seorang anak yang sangat pandai nyanyi, dibius lalu matanya dikasih air keras dan dikorek. Ketika Salim muntah-muntah, Maman menyuruhnya memanggil Jamal. Salim yang kaget disuruh Maman memilih mo jadi gelandangan or mo jadi seperti dirinya yang "laki-laki sejati". Salim mengangguk dan memanggil Jamal yang lagi latihan nyanyi ama Latika. Jujur gue deg-deg-an banget menyaksikan adegan ini. Jamal ditanya mo nyanyi lagu apa (Latika ngintip di luar gedung). Jamal sebutkan judul lagunya, dan Maman tersenyum sambil bilang pengarang lagu itu. Ketika Jamal nyanyi, Maman kasih kode ke Salim untuk ambil cawan berisi air keras (buat membutakan mata Jamal). Salim ambil air keras dan tiba-tiba ia melempar air keras itu ke muka bawahan Maman. Salim lari sambil teriak nyuruh Jamal ikut lari. Latika di luar pun ikut lari bersama mereka. Salim tidak berhenti sampai ia naik ke sebuah kereta api yang berjalan dan Jamal pun berhasil mengikutinya naik. Latika berhasil menggenggam tangan Salim tetapi Salim yang licik melepas tangan Latika sehingga akhirnya Latika tertangkap oleh Maman, dkk. Pelajaran: Salim licik dan akan berbuat apa saja demi keselamatan diri dan adiknya. Gue agak merinding menyaksikan adegan ini soale gue mikir kalo gue dihadapkan pada kasus yang mirip, apa pilihan gue? Apa gue akan mengorbankan orang lain untuk keselamatan gue & keluarga? Gpp orang lain tertangkap, gpp mengumpankan orang lain, yang penting diri sendiri & keluarga aman? Di saat darurat dan sulit menyelamatkan semua pihak, apakah gue akan membuat prioritas seperti Salim?

5. "Foto siapa yang tercetak di uang 100 US Dollar?" Semua orang ga ada yang percaya Jamal seorang miskin dan tukang saji teh (Chaiwallah) bisa mengetahui jawabannya, dari mana Jamal bisa tau? Emangnya dia pernah liat uang 100 USD? Adegan bergulir ke masa Jamal remaja yang gelandangan dan terdampar ke deket Taj Mahal. Banyak adegan kocak di sini, mencerminkan lagi kontrasnya karakter Jamal yang jujur dan Salim yang culas dalam hal sama-sama mencari uang buat hidup. Jamal jadi tour guide, tukang foto, kerja di resto, dll. Paling berkesan buat gue adalah Jamal mengajak orang bule dari Taj Mahal ke "binatu terbesar di dunia". Buset deh, si Jamal ngajak turis liat orang India lagi rame-rame nyuci & jemur baju di kampung yang kumuh (kreatif banget ya?). Sementara Jamal lagi mengajak turis keliling, Salim mengerahkan para pemuda kampung untuk mempreteli mobil si turis (jadi kayak gembong pencuri kendaraan bermotor di indonesia gitu). Jamal shock ketika mengantar turis kembali dan melihat mobil tinggal rangkanya doang. Dia digebuki oleh pemandu lokal yang mendampingi turis selain dirinya. Jamal berkata, "Jika kamu ingin melihat India, beginilah India yang asli." Bule wanita kasian ama Jamal dan menyuruh suaminya memberikan uang tips untuk Jamal. Di situlah Jamal mendapat uang 100 USD. Jamal tidak pernah membelanjakan uang itu. Tetapi Jamal terus mencari Latika, dan bertemu dengan seorang pengamen buta yang sedang menyanyi. Jamal memberikan uang 100 USD ke anak itu. Awalnya si buta mencium uang itu lalu menanyakan nominalnya. Ketika Jamal menyebutkan 100 USD, si buta menguji, "coba ceritakan gambar yang tertera di uang itu." Jamal menyebutkan ciri-ciri orang yang tercetak di uang itu. Anak buta itu langsung berteriak, "Benjamin Franklin! Kau tidak membohongiku, sahabatku Jamal." Anak itu ternyata mengenali suara Jamal dan mengatakan kalo Jamal sangat beruntung berhasil melarikan diri dari Maman sementara dirinya tidak seberuntung Jamal. Jamal mendapat info di mana Latika dari anak buta itu. Pelajaran: Berbelaskasihanlah kepada semua orang yang tidak seberuntung dirimu. Jamal yang miskin masih bisa memberikan uang 100 USD ke seorang anak buta padahal kalo dipikir lagi, sebenarnya Jamal mungkin bisa menggunakan uang itu untuk dirinya sendiri, ia memilih memberikan uang itu kepada orang lain. Akhirnya Jamal & Salim berhasil bertemu Latika yang sedang belajar menari di rumah prostitusi. Salim yang dari kecil udah bakat preman, dengan tak ragu sedetikpun, membunuh Maman dengan pistol. Mereka bertiga kabur dengan membawa uang Maman. Salim pergi melaporkan dirinya sudah membunuh Maman ke gembong mafia dan akhirnya ia diangkat jadi kaki tangan mafia itu. Salim kembali ke hotel tempat Latika & Jamal berada, lalu memaksa Jamal pergi dari hotel dengan menodongkan pistol ke kepala Jamal. Latika yang tidak ingin Jamal dibunuh, mengalah dan membiarkan dirinya bersama Salim.

6. Ada pertanyaan "Siapa yang memenangkan pertandingan ...?" (gue lupa lagi pertanyaannya hehehe). Ini melempar Jamal ke momen ia berjumpa lagi dengan Latika yang sudah menjadi istri simpanan si gembong mafia atasannya Salim. Si gembong akhirnya nonton pertandingan tapi karena Jamal hanya konsen pada Latika, ia tidak memperhatikan pertandingan dimenangkan oleh siapa. Lalu pikiran Jamal juga berlanjut ke Latika yang ingin lari bersamanya di stasiun tapi tertangkap oleh Salim dan antek-antek si gembong mafia. Pipi kiri Latika terluka oleh pisau Salim. Semua masa lalunya, tidak ada yang membawanya ke jawaban dari pertanyaan yang diajukan padanya. Ketika di toilet, waktu jeda, Jamal bercakap-cakap dengan sang pemandu kuis. Jamal mengakui bahwa ia tidak mengetahui jawabannya dan ia akan gagal. Si pemandu kuis menyakinkan Jamal bahwa Jamal pasti menang, lalu ia keluar dari tolet. Jamal yang mo cuci tangan melihat di kaca wastafel huruf "B" yang ditulis oleh si pemandu kuis dengan uap panas air wastafel. Jamal kaget banget. Dia kembali ke "kursi panas" dengan ditonton banyak orang dengan wajah linglung. Dia menatap si pemandu kuis dan mengatakan tidak tahu jawaban apa yang harus diberikan, dia minta bantuan "50-50" dan yang dihilangkan oleh komputer adalah pilihan A & C. Kasian banget deh si Jamal. Gue mikir wajar kalo Jamal jengkel. Kekerasan hatinya membuatnya "menolak" dan memilih jawaban yang bertolakbelakang ama "bocoran dari si pemandu kuis".


Masih banyak lagi yang bisa dipelajari dari film ini. Gue pengen nulis tapi kayaknya udah kepanjangan. Kalo dipikir-pikir ide cerita film ini mirip dengan Tetraloginya Laskar Pelangi si Andrea Hirata. Orang yang punya mimpi, berani memperjuangkan bukan hanya mimpinya tapi juga cintanya. Tujuan Jamal ikut kuis Who Wants To Be Millionaire adalah agar Latika (orang yang dicintanya sejak kecil) menemukannya. Cinta Jamal benar-benar membuat gue geleng-geleng kepala, ia tetap menantikan Latika setelah ia menjadi milyuner, bahkan setelah Latika jadi istri simpanan seorang gembong mafia Hongkong eh India denk hehehe.

Pertanyaan yang muncul: bagaimana lingkungan yang buruk itu tidak mampu menghilangkan karakter Jamal yang seperti berlian ini? (si Jamal ini ga pernah dishoot sedang sholat loh). Gue melihat satu hal yang indah: Jamal tidak pernah melenyapkan masa lalunya, ia mengingat semuanya dan belajar bertumbuh melalui masa lalunya sehingga akhirnya ia mampu mengolah masa lalunya menjadi batu loncatan menuju kesuksesan di masa depan. Pertanyaan terakhir gue: adakah pria seperti Jamal di dunia realita ini? Kalo ada, tolong dipaketin 1 ke rumah gue (nti gue mati-matian ajarin bahasa indonesia deh) hahaha... Petuah HM ke gue bergaung di telinga: pria impian seperti itu, yang riil pasti belum lahir ke dunia atawa udah mati, booo...

Senin, 02 Februari 2009

Red Cliff 2

Akhirnya gue berhasil nonton film ini, ga kelewatan seperti yang pertama dan terpaksa nonton dvd bajakannya upsss ngaku deh beli bajakan hehehe... Thanks God berikutnya adalah baik Red Cliff yang pertama maupun yang kedua ini gue nonton sama orang yang hafal cerita Sam Kok karena gue membutuhkan juru bisik untuk ngerti film ini.

Yang pasti, film keduanya ini menurut gue jauh lebih seru dan bagus dibanding yang pertama. Kisah Tiga Negara, kisah sejarah paling terkenal di seluruh daratan asia dan juga dunia, diangkat dari sejarah yang bukunya ditulis oleh Luo Guanzhong berjudul Romance of the Three Kingdoms yang berkisah tentang perebutan kekuasaan Cina oleh 3 raja besar dari 3 negara, Cao Cao (Wei), Sun Quan (Wu) dan Liu Bei (Shu). Dalam film ini hanya sepotong kecil dari keseluruhan kisahnya yang bercerita tentang pertempuran seru di Chibi dan Red Cliff, salah satu pertempuran hebat sepanjang masa. Wu dan Shu bekerja sama untuk menghadapi serangan dari Wei baik perang darat maupun air. Shu memiliki si cerdas Zhuge Liang sedangkan Wu memiliki si cerdas Zhou Yu. Cao Cao si penjahat, sebagai lawan mereka pun pintar. So, kisah yang rumit dan penuh intrik politik ini menghasilkan strategi-strategi militer terbaik di dunia sampai sekarang. Red Cliff 2 ini pun bertaburan intan-intan permata kehidupan yang memberikan konfirmasi tentang beberapa hal berikut :

1. Cao cao menghampiri seorang prajuritnya dan menanyakan kenapa sang prajurit yang biasanya sehat itu bisa kena wabah tifus yang mematikan. Mungkin awalnya Cao Cao pengen menyelidiki guna mencegah perluasan wabah tifus itu. Si prajurit tidak menjawab pertanyaan Cao Cao dan hanya mengeluh, “Aku ingin pulang.” Prinsip: Orang yang sudah sekarat, tidak bisa diajak menganalisa masalahnya. Cao Cao termenung sejenak lalu mensharingkan kerinduannya pada anaknya yang berusia lebih muda dari si prajurit. Cao Cao menempatkan diri berada di posisi si prajurit yang menderita akibat peperangan dan juga punya keluarga yang dirindui tetapi sekarang terpisah karena perang. Cao Cao menceritakan penderitaan dirinya sendiri dan usahanya untuk tetap berperang “demi rakyatnya, demi keluarganya”. Waktu Cao Cao cerita seperti itu, gue udah bisa menebak apa efeknya bagi para prajurit. Bener aja, waktu Cao Cao pergi dari perkemahan prajurit yang dikarantina tifus itu, tiba-tiba semua prajuritnya yang sakit (yang awalnya bangun aja ga bisa), mengantar kepergiannya dengan berdiri sambil menggebrak-gebrak tombak, menabuh gembreng perang, dll dengan penuh semangat berteriak bahwa sesakit apapun mereka akan ikut Cao Cao berperang sampai akhir menuju kemenangan. Menakjubkan sekali! Gue rasa Cao Cao sangat ngerti psikologis. Dia bisa memprovokasi “will” or keinginan seseorang, membangkitkan semangat orang yang sudah mo mundur. Kuncinya 1: menempatkan diri di posisi orang itu, lalu menceritakan kesamaan diri dengan orang itu. Cao Cao tahu bahwa orang-orang yang menderita perlu teman dan ia datang bukan sebagai atasan yang memerintah tapi sebagai teman yang mengerti dan memahami. Dengan itu, dia mampu memenangkan hati para prajuritnya. Hebat kan si penjahat satu ini?

2. Liu Bei mengundurkan diri dari aliansi dengan Sun Quan. Padahal yang mengusulkan aliansi itu adalah Liu Bei. Alasan Liu Bei sangat manusiawi: “Aku bertanggungjawab atas hidup para prajuritku. Aku tidak bisa membuat mereka bertahan di tempat yang ada wabah penyakit mematikan.” Wajar kalo Sun Quan marah dan merasa Liu Bei sangat egois karena ditinggal sendiri untuk menghadapi serangan Cao Cao. Walau di akhir, diceritakan sebenarnya ini cuma taktik Zhuge Liang untuk membuat Cao Cao lengah, mo ga mo, gue mikirin hal ini. Apa yang akan gue pilih kalo ada di posisi Liu Bei? Mempertahankan janji & komitmen (setia kawan) dengan risiko para prajuritnya mati? Atau mundur dari komitmen/perjanjian demi hidup prajurit/pihaknya sendiri? Kalo gue jadi Liu Bei, gue ga pengen anak buah gue mati. Ketika gue jadi pemimpin, gue punya tanggungjawab terhadap hidup anak buah gue. Tapi, apakah itu lebih penting dibanding dengan kesetiaan terhadap orang lain yang juga sudah melakukan banyak pengorbanan demi kerjasama dengan gue? Wow, kayak makan buah simalakama, serba salah, kalo makan buah itu, emak mati tapi kalo ga makan, bapak yang mati. Film ini mengajarkan, kadang pilihan yang sulit dapat diatasi dengan sebuah “langkah ekstrem yang berani” (percaya pada rekan). Langkah itu pada akhirnya akan diikuti oleh langkah lainnya. Para pengikut Liu Bei (termasuk 2 saudaranya: Zhang Fei dan Tio Hui) yang tidak tahu semua itu hanya tipuan, di awal mengikuti Liu Bei tapi akhirnya menentukan pilihan untuk kembali ke medan perang, memilih meninggalkan Liu Bei yang mereka anggap telah mengingkari perjanjian dengan Shun Quan. Kadang sebagai seorang pengikut, seakan tidak punya pilihan dan harus mengikut pemimpin. Tapi ada kalanya membuat pilihan yang berbeda dengan pemimpin juga diperlukan ketika pemimpin melakukan suatu “kesalahan” setelah mengevaluasinya beberapa waktu. Pelajaran yang gue ambil: hati nurani yang senantiasa dibersihkan melalui firman Tuhan adalah hal yang harus diikuti jauh melebihi ketaatan kita pada otoritas manusia karena memang Tuhan memberikan manusia sebagai otoritas, tetapi kita harus senantiasa waspada bahwa hanya relasi pribadi dengan Tuhanlah yang seharusnya menjadi dasar kita membuat pilihan yang dikehendakiNya

3. Ada adegan lucu antara Zhuge Liang (alias Kong Beng) dan jenderal yang bertugas menemaninya mencari 100.000 anak panah dalam 3 hari (taruhannya kepala sendiri, booo). Kong Beng tenang-tenang dan senyum-senyum misterius sementara si jenderal udah panik ga karuan. Karena Kong Beng ga mo buka mulut cerita rencananya, si jenderal ajak ngomong kura-kura lalu di adegan selanjutnya, dia ngomong dengan orang-orangan jerami di dalam kapal. Di balik adegan lucu itu, gue meringis karena membayangkan sesungguhnya relasi gue dan Tuhan seringkali seperti itu. Tuhan seakan diam dan tidak mo ngomong apa rencanaNya buat gue. Gue seperti si jenderal yang kalang-kabut ga jelas dan bete ama Tuhan lalu akhirnya ‘nyerah mancing’ Tuhan ngomong, akhirnya gue ngomong ama kura-kura atau orang-orangan sawah yang gue anggap “lebih manusiawi” dibanding Tuhan yang seakan bungkam seribu bahasa. Pelajaran baik dari si jenderal adalah walau dia ga tau rencana Zhuge Liang, walau dia panik dan ribut ngomong sendiri, dia tidak meninggalkan Zhuge Liang! Dia tetap mendampingi Zhuge Liang bahkan ketika bahaya mengancam. Mo ga mo semua pikiran yang terlintas waktu nonton adegan ini, membuat gue cengengesan karena seberat apapun tantangan yang gue hadapi dan Tuhan seakan diam dan tertidur, kalo gue bisa tetap bersama Tuhan di saat-saat seperti itu, itu hanya karena anugerah Tuhan. Anugerah yang memampukan gue akhirnya PASTI melihat karya Tuhan. Sama seperti si jenderal yang akhirnya bertepuktangan untuk Zhuge Liang, gue pun bertepuktangan untuk Tuhan yang luar biasa! Rancangan Tuhan jauh melebihi rancangan manusia. Penglihatan gue terbatas, yang gue perlukan hanya hati yang mo percaya bahwa rancanganNya selalu yang terbaik buat gue dan taat untuk tidak meninggalkanNya. Keren banget pesan dari adegan ini?

4. Persahabatan sejati seharusnya tidak dipengaruhi oleh kepentingan pribadi. Beda dengan film, buku Sam Kok aslinya menceritakan bahwa ketika Zhuge Liang selesai memanggil angin Tenggara yang menyelamatkan pasukan sekutunya (Zhou Yu), ia segera pergi bergabung dengan Liu Bei di jalan darat karena ia tahu Zhou Yu akan membunuhnya. Zhou Yu yang cerdik luar biasa menyadari bahwa Kong Beng adalah saingan terberatnya sehingga mengirim orang untuk membunuh Kong Beng supaya tidak menjadi musuh dalam selimut di masa mendatang. Di film Red Cliff 2 ini, yang terjadi tidak seperti itu. Kong Beng datang berjumpa dengan Zhou Yu dan mereka sama-sama bersyukur bahwa dalam peperangan kali ini, mereka telah menemukan “lawan tanding terberat” sekaligus sahabat sejati karena saling memegang janji & komitmen. Mereka tidak menyangkal kalau di waktu mendatang bisa saja mereka akan berhadapan sebagai musuh karena mereka melayani 2 tuan yang berbeda tapi mereka tetap saling percaya dan menutup perjumpaan mereka dengan sangat indah. Kalo mo dipikir, sebenarnya, versi buku lebih riil dan membumi. Bukankah dalam dunia nyata, misalnya dalam politik, teman bisa jadi lawan dan lawan bisa jadi teman hanya karena persamaan kepentingan? Tetapi jujur, gue lebih suka versi filmnya, karena itu idealnya, sebuah persahabatan yang sejati, tidak boleh hanya dibatasi oleh keuntungan pribadi. Persahabatan tidak bisa dikatakan sejati kalau hanya terjadi di saat terjadi persamaan kepentingan saja. Kalau sudah tidak ada kesamaan lalu saling menyerang hanya karena rasa tidak aman yang muncul. Biasanya orang bersahabat kalau ada kemiripan. Semakin mirip seseorang dengan diri kita, semakin kita akan menganggapnya sebagai saingan kita (kalau bukan lagi sahabat kita). Ending versi film ini lebih cocok dengan falsafah hidup yang gue perjuangkan. Kalau seandainya benar-benar tidak sejalan lagi, tidak perlulah saling menyerang! Berpisahlah dengan elegan, sama seperti Zhuge Liang dan Zhou Yu. Mereka menyadari potensi mereka untuk nantinya berhadapan sebagai lawan tanding dan bukan lagi rekan seperjuangan, tetapi mereka tidak saling bunuh hanya karena memperjuangkan rasa aman di masa datang yang belum tentu terjadi. Sekali lagi, gue bilang ini idealnya. Dalam dunia realita yang sering terjadi sering kebalikannya karena kesehatan emosional manusia jarang yang ada dalam level baik, mayoritas orang berjuang membuat pilihan demi rasa aman pribadi. Yah, namanya juga manusia.

5. Adegan di awal yang paling ga mo gue sorot tapi cukup menggerakkan emosi gue adalah waktu Cao Cao mengirimkan mayat-mayat prajuritnya ke wilayah Sun Quan. Kejam sekali Cao Cao melakukan itu (wajarkah itu dilakukan dalam perang?), membuat pasukan lawan terinfeksi wabah penyakit tifus juga. Yang mengharukan adalah Zhou Yu memberikan perintah agar menguburkan pasukan musuh karena mereka juga manusia. Kong Beng mengharuskan mayat-mayat itu dikremasi demi mencegah makin menjalarnya wabah itu. Dan mereka akhirnya mengkremasikan mayat musuh yang luar biasa banyak itu. Dalam perang, gue kadang mikir di mana ada rasa kemanusiaan? Tapi dalam film ini, kalo para pemimpin itu memiliki rasa kemanusiaan bahkan terhadap musuh mereka yang sudah mati, gue mo kasih two thumbs up deh. Kadang dalam hidup ini, yang paling sulit adalah mengasihi musuh apalagi kalau harus melakukan perbuatan baik demi musuh yang telah mengakibatkan diri kita mengalami banyak kehilangan. Kadang di situ gue berpikir, orang-orang di luar Kekristenan dapat melakukan banyak perbuatan yang luar biasa baik dengan dalih kemanusiaan dan moral, etika or whatever deh namanya. Apa yang membedakan perbuatan mereka dengan perbuatan orang Kristen? Mungkin hanya 1: motivasi. Orang Kristen mengampuni/melakukan perbuatan baik kepada musuh dengan motivasi untuk menyenangkan hati Allah. Orang Kristen telah mengalami anugerah pengampunan Allah sehingga dari dalam hati, otomatis muncul sikap yang mau mengampuni bahkan berbuat baik pada musuh. Pertanyaannya: kenapa seringkali orang Kristen yang telah merasakan anugerah itu, justru kikir dan sulit mengampuni orang lain? Seperti yang dikisahkan Yesus dalam perumpamaan hamba yang berhutang 10ribu talenta dan diampuni tetapi tidak mau mengampuni hutang temannya yang jumlahnya cuma 100 dinar. Jawabannya pun simple: karena hamba itu tidak merasakan anugerah Tuannya yang memberikan pelunasan 10ribu talenta. Dia masih berpikir kalo tuannya akan menagihnya suatu kali nanti sehingga dia harus terus mengumpulkan uang untuk membayarnya, makanya dia sangat perhitungan terhadap hutang temannya yang jumlahnya sangat sedikit itu. Serem juga ya kalo sudah bertahun-tahun jadi orang Kristen, tapi tidak sepenuhnya merasakan anugerah Tuhan! Semua usaha, bahkan pelayanan yang dilakukan pun tampaknya jadi usaha pribadi untuk “membeli” keselamatan yang harganya sebenarnya telah lunas dibayar oleh Kristus! Akhirnya, orang Kristen seperti ini, mau ga mau akan fokus dalam segala usaha “demi diri sendiri" dan tidak punya daya untuk fokus pada kepentingan orang lain, apalagi kepentingan Tuhan!

Hm, udah itu dulu kali ya, sebenarnya masih banyak yang bisa digali dari film ini. Gue bisa bikin masing-masing artikel dari tiap topik yang disorot hehehehe sayangnya ga ada waktu aja denk (belagu amir)… Tapi gue senang sekali bisa nonton film ini, pesannya juga bagus, selain gue bisa liat akting koko gue, Takeshi Kaneshiro tentunya hahahihihuhu (rada norax deh)…

Selasa, 09 Desember 2008

Bolt

Gue takut anjing, gue ga suka kucing, gue jijik ama hamster. Tapi ketiga hewan itu bergabung dalam film Bolt, ternyata bagus juga, bisa jadi komedi segar plus penuh makna ^_^ Ada seekor anjing (Bolt) yang menjadi bintang dalam sebuah film di mana ia bertugas sebagai bodyguard seorang gadis cilik (Penny) yang ayahnya (seorang dokter) ditawan musuh jahat.

Agar menjiwai aktingnya, anjing ini dikurung dalam studio Hollywood dan tidak mengenal jati diri yang sesungguhnya. Bolt selalu berpikir bahwa ia adalah anjing super yang matanya sanggup melelehkan besi, tangannya mampu mengoyakkan jeruji baja, gonggongannya dapat menghancurkan satu pasukan musuh (kelompok si mata hijau), lompatannya luar biasa... pokoknya, tak terkalahkan deh. Sejak kecil, ia sudah dilatih untuk hidup dalam suatu dunia ciptaan para kreator film. Bolt sedemikian terlindungi, bahkan
tidak tahu rasa lapar dan darah pun tidak pernah keluar dari tubuhnya (namanya juga film, booo...). Penny sangat menyayangi Bolt tapi Bolt mewujudkan rasa sayangnya hanya dengan menjaga Penny dengan sangat serius.Lalu sang sutradara membuat adegan Penny dan Bolt ditangkap. Di situlah titik awal perjuangan Bolt menjadi dirinya sendiri.

Bolt "membebaskan diri" dari kurungan dan bermaksud menyelamatkan Penny (padahal dalam dunia realita, Penny tidak dalam bahaya apapun). Bolt masuk ke dunia realita dan keluar dari Hollywood. Dalam perjalanannya menyelamatkan Penny, Bolt ditemani oleh Mittens (kucing) dan Rhino (Hamster). Alur ceritanya cukup segar, percakapan dikombinasikan dengan musik dan adegan-adegan lucu menciptakan film ini layak untuk ditonton semua usia karena memiliki pesan yang bagus, di antaranya sbb:

1. Be yourself. Dunia film/TV penuh dengan khayalan yang seringkali bertolakbelakang dengan dunia nyata. Bolt yang hidup di dunia TV itu sangat terlindungi & dapat menjadi anjing super sementara di dunia nyata, ia bukanlah anjing super, ia hanya anjing biasa. Selama Bolt masih terjebak dalam pemikiran bahwa ia adalah anjing super, ia tidak dapat menikmati hidupnya sebagai anjing biasa. Salah satu klimaks yang mengharukan adalah ketika Bolt menerima dirinya sebagai anjing biasa yang tidak punya kekuatan super, tetapi ia tetap setia dan tetap ingin menyelamatkan Penny. Gue jadi inget sebuah slogan: If you want to make your dreams come true, the first thing you have to do is wake up. Bolt belajar menjadi anjing yang suka bermain, menjulurkan lidah, berputar-putar, dll yang biasanya dilakukan anjing "normal". Menyaksikan ini, pelupuk mata gue sempet basah dikit loh soale emang menjadi diri sendiri itu luar biasa nikmat dan rasanya senang sekaligus terharu menyaksikan Bolt or orang-orang lain bisa menerima dan menjadi diri sendiri.

2. Fokus pada tujuan awal. Mittens yang sudah menjadi sahabat Bolt menawarkan kenyamanan tempat tinggal ketika perjalanan tinggal selangkah lagi bagi Bolt untuk sampai ke kota tempat Penny tinggal. Ekspresi Bolt yang bingung menunjukkan betapa sulitnya menolak tawaran dari seorang sahabat, walau kadang sahabat itu sepertinya tidak mengerti fokus tujuan kita. Gue ngerti banget perasaan Bolt yang bingung waktu teman berniat baik pada kita tapi kebaikannya itu dapat menyimpangkan kita dari tujuan awal hiks... Walau harus menyinggung Mittens, Bolt tetap fokus pada tujuan awalnya. Gue rasa ini yang dinamakan anjing yang bertujuan! Kalo manusia gimana ya? harus lebih bertujuan dong dari Bolt hehehe....

3. Belajar menang atas masa lalu bersama sahabat. Mittens punya masa lalu yang kelam karena dikhianati pemiliknya. Jadi, ia sangat menentang Bolt yang ingin kembali ke Penny. Betapa sakit hatinya Mittens ketika niat baiknya, semua usahanya untuk Bolt malah membuahkan penolakan. Ga heran kalo ia mengusir Bolt karena merasa Bolt keras kepala. Ketika Bolt benar-benar pergi, jelas muncul kesedihan dalam hati Mittens karena ia sungguh-sungguh tidak ingin Bolt terluka (sampe ga nafsu makan euy). Mittens memiliki konsep: tidak ada manusia yang bisa dipercaya, ia tidak dapat mengerti kenapa Bolt tidak mau menuruti sarannya. Ia menuntut Bolt percaya pada pemikiran dan perasaannya tetapi di sisi lain, Mittens sendiri belum bisa mempercayai pemikiran dan perasaan Bolt. Ironis ya? Waktu nonton adegan itu, gue jadi merenung karena manusia pun sering begitu dalam berinteraksi satu dengan yang lain. Semakin dekat kita dengan seseorang, kita makin menuntut orang itu untuk menerima pemikiran dan perasaan kita dan sebaliknya, kita malah sering lupa dengan pikiran dan perasaannya, kita lupa bahwa orang terdekat kita itu pun manusia yang punya pikiran dan perasaan. Beruntung ada Rhino si hamster kocak yang walau hidup dalam dunia khayalan, ia mampu menjadi contoh bagi Mittens, bagaimana seorang sahabat itu seharusnya bersikap. Daripada menyediakan suatu kenyamanan bagi sahabat (agar ia tidak terluka), lebih baik mendukung sahabat kita untuk berjalan dengan fokus pada tujuannya. Kita boleh aja memberi saran bagi sahabat dengan tujuan dan maksud baik tapi kalau sahabat kita memutuskan untuk melakukan yang berbeda, tugas kita sebagai sahabat adalah mendampingi dan mendukungnya agar ia berhasil. Wow, teori yang gampang tapi prakteknya ehm ga semudah membalik telapak tangan tuh... Mittens akhirnya berhasil mengalahkan masa lalunya, karena ia mendengarkan nasihat Rhino dan ia pun dapat mendukung Bolt yang sempat merasa kecewa karena suatu kesalahpahaman dan merasa pemikiran Mittens benar bahwa Penny tidak menyayanginya lagi. So, siapa yang mendorongmu berjuang mengatasi masa lalu? Siapa yang tetap mendukungmu di saat kamu mengambil keputusan yang berbeda dengan keinginannya? Siapa yang menghiburmu di saat kamu merasa keputusanmu salah? Dialah sahabat sejatimu ^_^

4. Rhino mencetuskan kalimat yang menurut gue adalah intisari semua film Hollywood. "Semua orang membutuhkan pahlawan." Di dunia perfilm-an sudah pasti tokoh baik jadi pahlawan melawan tokoh jahat dan yang menang biasanya tokoh baik. Biasanya bete banget kalo yang menang tokoh jahat. Gue setuju, pada dasarnya semua manusia sangat membutuhkan pahlawan dalam hidupnya. Karena gue yakin kebutuhan akan pahlawan itu ditaroh Tuhan dalam hati tiap manusia, kebutuhan akan seseorang yang dapat menyelamatkan orang lain. Kebutuhan akan seseorang yang lebih hebat dari dirinya. Dan sesungguhnya kebutuhan ini hanya dapat dipenuhi oleh Sang Pencipta yang datang ke dunia dalam diri Tuhan Yesus Kristus, Sang Pahlawan Sejati yang menyelamatkan manusia berdosa. Jadi, kalau mencari pahlawan di luar Kristus, manusia hanya akan mengalami kekosongan selamanya. Karena tidak ada pahlawan manusia yang sempurna. Hanya Allah yang sempurna yang sanggup menjadi Pahlawan Sempurna. Dunia film boleh aja menawarkan banyak pahlawan seperti: Batman, Superman, X-man, Ultraman, Power Rangers, Ksatria Baja Hitam, Sailor Moon, Robin Hood, Peterpan, dan lain-lain (ga akan abis gue sebut wong gue aja ampe lupa saking banyaknya), tetapi selama manusia belum menemukan Pahlawan Sejatinya, hati manusia tak akan pernah puas dan akan selalu menemukan kekecewaan.

Hmm apa lagi ya? sebenarnya banyak yang bisa direnungkan dari film Bolt tapi sekarang gue udah harus back to work lagi so buat yang belum nonton dan ada waktu, nonton aja dan tarik sendiri pelajaran dari film itu ya, kan bisa jadi penghiburan sehat hehehe... Met nonton deh...

Jumat, 25 April 2008

Get Merit

Kemaren gue nonton dvd yang dibintangin oleh Nirina Zubir, dkk (ketinggalan bangir ya? Wong itu udah lama turun dari bioskop). Lucu sih lucu, cuma banyak bahasa kasarnya. Pesannya sederhana banget, kayaknya emang Cuma untuk membuat orang ketawa. Menurut gue ini film masih lebih bagus daripada film Indonesia yang nyorot sisi horor mulu. Commedy is always better than horror, boo… hehehehe…

Alur ceritanya amat sangat sederhana, hampir ga mungkin terjadi di hari gini. Kalo terjadi pun, pernikahan si Mae dan Rendy yang menjadi ending nih film, udah dapet dipastiin bisa dijadiin awal sekuel film pasca pernikahan (maybe nti judulnya get divorce =gubrak=). Mana ada pernikahan sesimpel itu dan tidak bermasalah?

Percakapan-percakapan para tokoh dalam film itu menyingkapkan bahwa banyak anak di dunia ini yang mengambil peran sebagai “orangtua” karena orangtua ingin melepaskan tanggung-jawab secepatnya atas diri anak. Film ini konyol karena menyoroti bagaimana si anak berusaha memenuhi keinginan ortu yang entah berujung seperti apa. Pokoke untuk film ini, lebih baik dinikmati ketawanya aja deh. Sentilannya ada yang bagus tapi kebanyakan kurang masuk akal hehehe... nontonnya harus mengistirahatkan pikiran bentar, yang bagus diambil dan sebaliknya yang "miring" dimasukin kuping kanan, keluarin aja lewat kuping kiri. Have fun and enjoy, guys...

Senin, 14 April 2008

Three Kingdoms

Kemaren gue senang banget karena bisa nonton "Three Kingdoms" di Djakarta Teater bersama bokap, nyokap dan kedua adik gue. Selain karena udah lama ga keluar bareng komplit, filmnya lumayan membuat kita semua jadi mikir sambil tentunya bernostalgia sama Andy Lau dan Sammo Hung tentunya ^_^. Kata orang kan, harus belajar dari sejarah, jangan sampe sejarah jelek berulang.

Andy berperan sebagai Ji Long, berasal dari Chang San mengawali karier sebagai tentaranya Liu Pei yang mendirikan kerajaan Shu. Sammo jadi Ping An, koko angkat Andy yang merekrut Andy ke dalam pasukan. Tapi akhirnya, Andy berhasil naik pangkat jadi salah satu dari 5 jenderal besar Liu Pei (bersama Zhang Fei dan Guan Yu, hanya mereka berdua yang gue tau dalam sejarah Sam Kok selain Liu Pei sendiri hehehe). Walau kisah ini menceritakan tentang perang, banyak sekali intrik drama self-talk yang dilakukan oleh para tokoh utama, seperti: Ji Long, Ping An dan Chao Ying (cucu Chao2, musuh besar Liu Pei). Ping An yang bergumul dengan kepahitan, iri hati, kecemburuan sekaligus rasa sayang terhadap Ji Long. Respek dan kasih yang ditunjukkan Ji Long terhadap Ping An dan rajanya. Menariknya di awal karirnya, Ji Long berkata tujuan hidupnya adalah mempersatukan kerajaan Cina menjadi kerajaan yang damai PLUS menikah dan membentuk keluarga. Ironisnya, di akhir hidupnya, Ji Long mengakui di hadapan Ping An bahwa tidak satu pun tujuannya yang tercapai! Kebesaran hati Ji Long membuat Ping An tersadar bahwa sebenarnya mereka berdua sama saja, tujuan hidupnya tidak tercapai. Untuk apa mereka hidup dan berperang mati-matian selama ini? Kenapa setelah pengabdian yang luar biasa dengan mengorbankan kepentingan pribadi, mereka malah "dikorbankan" oleh PM. Chu Kat Liang (si pintar strategi militer) demi perluasan wilayah "negara."

Sedih sekali menyaksikan film tentang perang. Kalo ada orang yang mengagumi pembuatan film perang, gue pribadi lebih melihat bahwa pesan itu mengatakan bahwa selalu ada yang dikorbankan dalam peperangan. Ironisnya adalah biasanya orang kecil yang berkorban (atau dikorbankan) demi kenyamanan orang besar. Berkaca dari situ, gue bersyukur Indonesia tidak sedang mengalami peperangan. Tapi invisible war justru masih terus berlanjut, bahkan antara rakyat kecil dengan pemerintahnya sendiri. Gue jadi inget kasus para petani Kulon Progo yang jadi fokus Kompas Jum'at yang lalu. Ampun deh, hati ini rasanya ikut merasakan sakit ketika rakyat kecil dikorbankan demi sesuatu yang lebih besar, seperti dalih meningkatkan devisa negara. Kalau SBY benar2 menyetujui penambangan dilakukan dengan menggusur petani yang udah mati-matian mandiri berjuang hidup, gue cuma bisa geleng-geleng kepala. Lah "wong cilik" itu ga nyusahin "orang besar" malah membantu supaya "orang besar" ga kebanyakan impor ini/itu yang bisa dihasilkan sendiri, kog malah menutup pintu penghidupan mereka? Mau kemana negara ini pergi? Masak rakyat berperang dengan pemerintah sendiri? Perang tak terlihat ini sungguh mengiris hati.
Apa kata dunia?