Tampilkan postingan dengan label Book. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Book. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Februari 2009

The Value of A Good Idea

Itu judul bab 10 dari buku Bill Hybels yang berjudul ax.i.om [ak-see-uhm] yang dijadikan pegangan KTB coreteam, KTBnya para hamba Tuhan (oya, Bill juga ngarang buku lain yang berjudul Courageous Leadership). Nah, pagi ini kami seperti biasa mendiskusikan apa yang dapat kami terapkan sebagai pemimpin di yayasan tempat kami melayani bersama.

Dari sharing Bill Hybels, gue mencatat beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pemimpin berkaitan dengan good idea, yaitu:
1. Mencari ide = mencari kehendak Allah. Itu membutuhkan kerjasama antara Allah dengan kita, yaitu: menyediakan waktu mendengarkan suara Allah dan dengan rendah hati, membiarkan Allah memakai semua hal yang dititipkanNya pada kita untuk mengeluarkan ide itu (termasuk otak dan hati kita). Kami sempat mendiskusikan: seberapa jauh sebuah ide disebut orisinil? Apakah kalo ide itu berasal dari gabungan-gabungan buku dan media lain yang diserap otak kita, itu bukan ide yang orisinil? Apakah hanya ide dari Tuhan saja yang seakan orisinil? Kami kembali ke kitab pengkhotbah: "Tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Yang sekarang ada, dahulu sudah ada. Hanya Tuhan yang sanggup menciptakan sesuatu dari yang 'benar-benar' baru." Jadi, jangan kuatir apakah ide itu orisinil dari dalam diri karena melihat fakta, berita, informasi dari buku, dll, yang penting bagaimana mengolah ide tersebut sesuai kebutuhan yang dihadapkan pada kita. Paling penting adalah cari kehendak Tuhan dengan sikap rendah hati (ini mengantar ke poin berikutnya).

2. Seorang pemimpin tidak harus menjadi pencipta/pencetus ide terus-menerus, tetapi harus mampu menstimulasi agar orang lain dapat menciptakan ide-ide lalu memfasilitasi agar ide-ide orang lain berkembang menjadi semakin tajam dan fokus dalam penerapannya. Leaders traffic in idea creation. Untuk itu, diperlukan sikap kerendahan hati, keterbukaan dan kemampuan negosiasi yang baik dari seorang leader. Original idea kadang perlu dipertajam, dipoles, didiskusikan ulang dengan cara yang tepat sehingga tidak mematikan ide/meruntuhkan semangat si pencetus ide. Sebenarnya di sini gue melihat lagi rasa aman (tingkat security) seorang pemimpin atau pencetus ide itu harus besar. Gue ambil contoh waktu gue pelayanan ke kalimantan. Udah cape-cape bikin acara bertiga, lusa sudah mo go to Kalimantan, eh tiba-tiba GM ngomong panjang-lebar ke gue tentang acara rekonsiliasi yang kami (tim) rencanakan. Abis dia ngomong, besoknya, gantian, pendiri yayasan dateng ngomong ke gue, isi pembicaraan mirip (bayangkan, besoknya kami harus go to Kalimantan). Awalnya gue pikir, "Wah, mereka ini sangat kuatiran, di mana mereka mo kasih Tuhan berperan dalam pelayanan milik Tuhan ini?" Tapi gue ga ngomong begitu sih ke mereka hehehe, gue hanya mengkomunikasikan alasan semua ide dan keputusan yang diambil selama ini. Lalu sebagian ide mereka yang emang bagus & bisa dijalankan, yah akan dijalankan. Sisa "ide mereka" yang juga bagus, akan menjadi rambu-rambu bagi kami untuk peka mendengarkan perintah Roh Kudus langsung di lapangan (dengan kata lain, kami bersedia wait & see). Thanks God, mereka berdua adalah orang-orang yang terbuka dan mau mendengarkan pendapat dan beban orang lain juga. Gue beruntung menghadapi orang-orang yang berpikir panjang tapi tetap terbuka, tidak mematikan ide orang lain. Mereka mendoakan kami dan puji Tuhan, ide itu akhirnya jalan dengan sangat baik, kami sama-sama melihat karya Tuhan yang luarbiasa. Kasus ini memberi contoh bahwa WALAU salah satu pihak yakin akan idenya berasal dari Tuhan, tetap perlu mendengarkan pendapat orang lain yang kita tahu mereka pun berusaha mendengarkan Tuhan. Ciri orang yang mendengarkan Tuhan adalah rendah hati dan siap menarik ide yang dilontarkan jika ternyata bukan dari Tuhan. Waktulah yang akan menguji baik orangnya maupun idenya.

Gue rasa 2 poin di atas udah cukup panjang dijabarkannya ya. Kesimpulan gue: 1. Ide yang bagus perlu didukung, 2. Ide bisa dikatakan bagus atau tidak, sesuai kehendak Tuhan atau tidak, kadang perlu diuji oleh waktu dan kesempatan untuk trial & error (butuh disiplin, komitmen dan kerendahan hati), 3. Ide yang "kurang" bagus, sediakanlah waktu untuk brainstorming dengan sekelompok leader (libatkan para decision maker sejak awal, jangan di akhir doang) yang punya hati dan otak, maksudnya: otak untuk mempertajam ide menjadi lebih down to earth PLUS hati untuk menyampaikannya dengan mempertimbangkan perasaan banyak pihak.

Yah gitu aja deh, tulisan ini mengutarakan isi hati gue yang penuh syukur karena berada di ladang pelayanan yang membuat gue bertumbuh, bukan hanya karakter, tapi juga skill dengan memberikan banyak kesempatan dan juga batasan. Peace... Peace... ^_&

Rabu, 18 Februari 2009

Masa Lalu Bukan Keselaluan

Waktu mempersiapkan topik "Masa Lalu Bukan Keselaluan" dengan bahan dasar buku Pak Yohan, gue merasa harus memecahnya menjadi 2 kali pertemuan. Dalam pertemuan pertama, gue minta kelompok untuk membuat SRH (Skema Riwayat Hidup) sampai tahun 2008. Karena masa lalu akan menjadi keselaluan selama belum disadari. Suatu pola yang sama akan terus berulang di masa yang akan datang jika belum ada "pencerahan" dampak sebuah masa lalu.

Singkat cerita, di pertemuan kedua, gue mo kelompok menang atas masa lalu dengan mensharingkan pencerahan yang mereka dapat melalui PR mengerjakan SRH itu. Terakhir, adalah tantangan untuk keluar dari pola masa lalu yang telah disadari. Gue bagiin kertas dan tiap orang menulis pola negatif dari masa lalu yang telah disadari. Setelah itu, gue kasih tiap orang masing-masing 1 balon (upss ini ngambil balon Tura punya nih, minta ya...tura kan murah hati hehehe).

Kemudian tiap orang memasukkan kertas yang sudah digulung kecil ke dalam balon lalu meniup balon. Setelah itu sebagai wujud mereka mau lepas dari pola masa lalu yang negatif, mereka harus memecahkan balon dengan usahanya sendiri, sebisa mungkin tidak menggunakan alat selain diri mereka sendiri. Gue kasih contoh dengan menduduki balon yang berisi pola gue sendiri. Kocaknya, tuh balon ga pecah gue duduki, malah gue yang terpental ke belakang (rawon yang gue makan siang itu ga cukup membuat gue bertahan didorong balon hehehe).

Setelah itu, kami saling mengamati tiap orang dalam kelompok. I dengan cepat memecahkan balon dengan menggunakan kuku. G juga menyusul, gue ga abis pikir kenapa 2 cowo itu punya kuku lebih panjang dari para wanita dalam kelompok . Cukup mengagetkan ketika melihat N menggunakan tangan dengan tidak ragu-ragu, muka memancarkan tekad, langsung memencet balon sampe pecah.

Yang kocak waktu As berusaha memecahkan dengan menginjak eh tuh balon ga pecah-pecah, dia dorong2 ke tembok juga ga pecah, balonnya alot banget sampe akhirnya dengan muka gemas, dia menggunakan tangan, memencet balon lalu ekspresi puas tergambar di wajahnya setelah balon itu pecah. Di saat bersamaan, Y juga meremukkan balon dengan tangannya langsung.

Lain dengan E yang dari awal menyaksikan orang-orang memecahkan balon, langsung menutup telinga dan berkata, "Gue takut, pecahin dong balon gue." Sampe akhirnya dengan dorongan teman-teman, E menutup telinga dan pasang muka pasrah, menduduki balon dengan mata terpejam. Eh balonnya mental kayak kejadian gue hahaha dia menepuk-nepuk dada berusaha menenangkan diri dan mengulang lagi dengan ekspresi yang sama. Akhirnya balon E juga pecah. Hanya L yang menggunakan pensil tajam untuk menusuk balon karena balon yang ditiupnya kecil banget, mo diapain juga ga akan pecah selain ditusuk.

Terakhir An yang memeluk balon dengan wajah tak mau kehilangan. Dia ga rela banget ketika semua orang menanti dia memecahkan balon. Dia bilang, "Sayang ini balon, bisa buat anakku." Geli banget deh, gue langsung mikir, "Buset, begini nih kalo seorang bapak mo mewariskan segala hal ke anak, termasuk hal-hal negatif (secara ga sadar)." Tapi setelah didorong-dorong, An mencubiti balonnya sampe berlubang dan balonnya ga meledak, kempes dengan cara yang tidak mengagetkan seperti yang lain.

Gue nulis ini karena dari cara mereka memecahkan balon, dari ekspresi mereka, dari celetukan-celetukan yang mereka keluarkan selama proses ini berlangsung, juga dari komentar perasaan mereka setelah berhasil memecahkan balon, sedikit-banyak, terbaca profile mereka. Yang pasti, kami semua bertepuktangan untuk diri sendiri yang telah berhasil memecahkan balon itu. Semua mempertanyakan, "Yah, bu... kertasnya masih ada nih, keluar lagi dari balon yang udah pecah!"

Gue tertawa dan berkata, "Yup, bener banget! Kertas berisi pola masa lalu yang ingin dihancurkan itu akan tetap ada. Itu mencerminkan bahwa masa lalu tidak bisa dihilangkan. Masa lalu akan selalu menjadi bagian hidup kita. Yang kita hancurkan adalah pola negatif dari masa lalu. Jadi, kita bertekad kita ga mau masa depan kita dipengaruhi lagi oleh pola negatif masa lalu. Ketika memecahkan balon itu ada rasa takut, rasa sakit ketika balon meledak. Meninggalkan pola negatif masa lalu pun menyakitkan dan kadang menakutkan tetapi ingat bahwa kalian telah menghancurkan balon tadi, ada tekad yang kuat dalam diri kalian untuk menang atas masa lalu. Masa lalu bukan keselaluan!"

Perkataan Paulus dalam Filipi 3:12-14 menutup topik ini: "Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, Tetapi ini yang kulakukan: Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." Ayat ini sungguh hanya dapat berlaku bagi orang-orang yang justru berani membereskan masa lalunya sehingga masa lalu tidaklah menjadi suatu keselaluan.

Rabu, 11 Februari 2009

Silence (Hening)

Buku karya Shusaku Endo berjudul SILENCE cukup menarik untuk dikaji karena banyak memberikan sudut pandang dan pergumulan seorang pastur bernama Rodriguess atas penganiayaan terhadap orang Kristen di Jepang dulu. Ketika penganiayaan terhadap orang Kristen itu terjadi, seakan Tuhan itu diam dan berpangku tangan saja. Ada beberapa self-talk Rodrigues:

1. Tuhan Yesus bisa mengambil Yudas menjadi muridNya walaupun tahu akhirnya Yudas akan mengkhianatiNya. Kenapa? Rodrigues masuk seminari dan tetap tidak menemukan kenapa Allah memilih Yudas seakan sebagai kambing hitam dari kemuliaan Salib Kristus. Kalau begitu, sial banget nasib Yudas yang ditentukan binasa oleh Allah dalam usahaNya menyelamatkan dunia. Dalam hidupnya, Rodrigues belajar memposisikan diri sebagai Kristus ketika dia harus "mempercayakan" hidupnya di tangan seorang pengecut bernama Kichijiro yang berkali-kali menyangkal iman Kristen supaya tetap hidup dan berulang kali pula Kichijiro ini menyesal dan mengakui dosanya. Muncul dilema dalam hatinya ketika menyaksikan ini: Kenapa Tuhan menciptakan ada orang yang kuat tidak menyangkal iman sama sekali walaupun mengalami siksaan dan mengapa ada orang yang tidak tahan siksaan sama sekali? Kalau orang yang tidak tahan siksaan ini hidup di zaman yang serba enak, udah pasti ia akan menjadi orang Kristen yang setia sampai mati. Kenapa ada orang Kristen yang hidup bebas sementara yang lain harus mempertaruhkan nyawanya hanya supaya dapat beribadah kepada Kristus. Dari semua ini, menurutnya seakan-akan Allah tidak adil.

2. Fumie atau gambar Kristus yang diinjak seolah berbicara pada Rodriguess: "Injaklah Aku, Aku tahu kakimu sakit ketika menginjak-Ku tetapi justru untuk itulah aku datang." Rodrigues akhirnya menginjak gambar Kristus supaya orang Kristen lainnya (yang telah menyangkal iman tapi tetap dimasukkan ke lubang siksaan) dibebaskan. Rodrigues berusaha mempertahankan diri bahwa dia tidak menyangkal imannya kepada Kristus. Ia melakukan itu karena merasa Kristus berbicara agar ia menginjak gambarNya demi menyelamatkan orang Kristen yang ada dalam penderitaan. Ferrarie salah seorang dosen teologi Rodrigues yang juga telah "ditaklukkan" oleh para petinggi Jepang, mempengaruhinya dengan berkata, "Kalau Kristus ada di sana, Kristus pun akan menyangkal imanNya demi keselamatan orang-orang yang dikasihiNya."

Stop sampai di situ dulu, gue mau ga mau jadi merenung. Gue tau kalo Kristus mengasihi umatNya. Tetapi lebih dari itu, Kristus mengasihi Bapa yang mengutusNya! Bagi Kristus, tujuanNya datang ke dalam dunia hanyalah melakukan kehendak Bapa! Karena Bapa mengasihi manusia, maka Bapa mengutus Kristus dan Kristus yang mengasihi Bapa, taat karena memiliki hati seperti hati Bapa! Tetapi kasih Bapa tidak dapat dikompromikan dengan menyangkal iman. Karena tanpa iman yang benar, semua tindakan "belaskasihan atau kebaikan" hanya akan menjadi tindakan atas nama moralitas belaka.

Kalo dipikir-pikir, itulah awal kejatuhan Rodrigues dan Ferrarie. Mereka menempatkan "moralitas" di atas "iman" mereka. Kalau sudah demikian yang terjadi, tidak ada bedanya mereka (yang mengaku Kristen) dengan orang-orang beragama lain yang tidak mengenal Kristus. Mereka lupa bahwa dalam Kekristenan, inisiatif dimulai dari Allah sendiri. Allah yang proaktif dan berdaulat dalam menyelamatkan manusia. Dalam penderitaan mereka, para pastur itu merasa Tuhan DIAM dalam hening. YA, memang seakan Tuhan tidak bertindak di masa-masa itu. Di saat benih keraguan itu muncul, dengan cepat, iblis akan menggunakan semua akal pikiran manusia untuk mengembangkan keraguan berikutnya yang seperti bola salju yang menggelinding dari puncak gunung es semakin ke bawah akan semakin membesar.

Pikiran Rodrigues mulai merancang segala sesuatu "yang seharusnya" dilakukan Tuhan. Saat ia memikirkan itu, dia sendirilah tuan atas kejadian yang dilihatnya. Ketika Tuhan tidak melakukan seperti yang diinginkannya, ia mulai menunjukkan usahanya untuk melakukan yang lebih baik dari Tuhan. Ia harus menyelamatkan orang-orang lain dari kematian jasmani. Ia bukan hanya lupa bahwa Tuhan menjanjikan kehidupan kekal bagi orang yang percaya Kristus, Rodrigues bahkan mulai mempertanyakan bagaimana seandainya orang-orang itu mati mempertahankan iman tetapi terhadap Tuhan yang salah? Bagaimana kalo orang-orang Jepang yang rela mati itu ternyata bukannya menyembah Kristus tetapi menyembah "tuhan campuran dengan budaya mereka". Bagaimana kalo tidak pernah ada Tuhan? Bukankah semuanya akan mati sia-sia?

Rodrigues sudah mengambilalih peran Tuhan dan ia lupa bahwa Tuhan yang DIAM itu, Tuhan yang berdaulat. KehadiranNya tidak ditentukan dari DIA bersuara dan bertindak saja, tetapi bahkan dalam diam pun, Tuhan tetap ada. Gue inget banget ada sms yang mengatakan, "Tuhan seperti bintang di langit. Tidak selalu terlihat dari bumi karena kadang tertutup awan. Tetapi Bintang itu tetap ada di tempatnya walau pun kita tidak dapat selalu melihatnya." Satu hal yang gue pikir sifat para hamba Tuhan adalah: terpanggil ketika ada yang membutuhkan. Rasanya ingin sekali menolong orang lain. Gue juga merasakan hal yang sama. Tetapi di satu pihak, ini semua mengajarkan gue bahwa ada batasan yang dapat dilakukan untuk manusia lain. Di luar batasan itu, adalah bagian Tuhan. Melebihi batasan itu artinya mengambil peran Tuhan atas hidup orang lain dan akhirnya malah tidak bertanggungjawab dengan peran yang Tuhan kasih dalam hidup kita sendiri, misalnya dalam kasus Rodrigues. Ia sibuk memikirkan apa yang seharusnya dilakukan Tuhan: menyelamatkan orang Kristen dari kematian jasmani (padahal tujuan Kristus datang ke dunia adalah untuk menyelamatkan kehidupan kekal manusia, bukan supaya manusia hidup enak & tidak mengalami kematian jasmani). Dan ia lupa akan perannya untuk mempertahankan imannya sendiri.

Analisa gue tentang secuplik pemikiran Rodrigues ini ditutup dengan suatu kesimpulan bahwa akhirnya Rodrigues hidup dalam sebuah rasionalisasi, salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri. Ia mengatakan mendengar Kristus menyuruhnya menginjak gambar Kristus, tetapi ia sama sekali tidak menyangkal imannya sampai mati. Boleh jadi mulutnya berkata demikian, tetapi hatinya berkata lain. Karena dalam hidupnya, ia tidak pernah bisa akrab dengan Ferrarie yang dikatakannya seperti anak kembar dalam hidupnya, kembar dalam kesalahan. Dan yang buruk pada diri Ferrarie, ada juga pada dirinya. Mereka saling menjauh satu sama lain, ini adalah suatu bukti self-denial, tidak adanya penerimaan diri terhadap perbuatan yang telah dilakukannya karena tercermin pada diri orang lain. Sampai akhirnya mereka berdua tidak bisa menolak perintah untuk mengabdi kepada negara Jepang, mereka harus menulis buku "sanggahan terhadap iman Kristen". Dan mereka melakukannya. Dapat dibayangkan betapa besar konflik batin yang mereka rasakan? Bagaimana rasionalisasi mereka berjuang supaya mereka bisa hidup selaras? Mati-matian mengatakan mereka tidak menyangkal iman mereka tetapi perbuatan mereka sedikit demi sedikit mengarah ke sana seperti bola salju.

"Aku bukan siapa-siapa yang berhak menghakimi orang lain." Itu kalimat pernah diucapkan Rodrigues ketika berita pengkhianatan Ferrarie terdengar ke Portugis. Berita itu pula yang mendorongnya pergi ke Jepang untuk bertemu sendiri dengan Ferrarie. Kalimat yang sama pengen gue utarakan sebagai penutup: Gue bukan siapa-siapa yang berhak menghakimi orang lain. Gue ga mo menghakimi Rodrigues ataupun Ferrarie. Kalo gue ada di posisi mereka, belum tentu gue punya keberanian seperti yang telah mereka tunjukkan dalam menghadapi lubang siksaan. Gue cuma mo bilang: kadang orang yang berani mati sekalipun, terlihat kuat dan tegar tetapi sesungguhnya hatinya mudah tersentuh dan penuh belaskasihan terhadap sesama. Ketika mau mengorbankan banyak hal buat sesama, gue cuma merasa diingatkan, apakah itu yang terutama?

Sepertinya golden rule dalam Matius 22:37-39 dapat menutup tulisan ini, "Jawab Yesus kepadanya: 'Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.'" Jelas sekali di mana prioritas itu harus ditempatkan. Dengan begitu, semua kegiatan kita bukan hanya moralitas belaka tapi memiliki dasar iman yang jelas. Yah, gue cuma merasa jadi harus makin waspada aja, maklum, kadang panggilan menolong orang itu begitu besar sampe akhirnya gue malah mengambil alih peran Tuhan, seakan-akan gue tau lebih baik dari Tuhan dan akhirnya jadi berantakan. Membaca kasus Rodrigues mau ga mau jadi bercermin dan belajar banyak untuk mewaspadai kerapuhan pikiran diri sendiri....

Rabu, 03 Desember 2008

Cara Tuhan

Syair kutipan dari buku "Merupa Hidup dalam Rupa-Mu" (halaman 80)

Kumohon kepada Tuhan
agar aku bisa bertumbuh dalam
iman, kasih dan setiap anugerah
di mana aku bisa lebih mengenal karya keselamatan-Nya,
dan lebih sungguh-sungguh mencari wajah-Nya.
Dialah yang mengajarku berdoa demikian,
maka aku berharap Dia akan menjawab
permohonanku dengan segera;
Dan dengan kekuatan kasih-Nya
menaklukkan dosa-dosaku,
dan memberiku ketenangan.
Aku yakin Dia telah menjawab doaku,
namun dengan cara sedemikian rupa
yang justru membuatku hampir putus asa.
Ya, bahkan dengan tangan-Nya sendiri,
Ia kelihatannya bermaksud menambah sengsaraku;
merintangi segala kesenangan yang kurancangkan;
menghancurkan kemegahanku, dan merendahkannya.
Bukannya seperti permohonanku,
Ia malah membuatku merasakan kejahatan-kejahatan
tersembunyi dalam batinku,
dan membiarkan berbagai kekuatan amarah neraka
menyerang setiap bagian jiwaku.
Serta menunjukkan bahwa
perasaan dendam, perselisihan, benci,
cemburu, iri, tidak sabar, malu, putus asa, hawa nafsu,
kesombongan, ambisi, dan sensualitas
masih berkuasa atas perilakuku.
"Tuhan, mengapa ini?" seruku gemetar.
"Dengan cara inilah," sahut Tuhan,
"Aku menjawab permohonanmu
akan iman, kasih dan anugerah.
Engkau meminta iman,
itu Kujawab dengan badai, lembah kelam,
dan kesulitan menggunung
di situlah imanmu ditempa.
Engkau meminta kasih,
itu Kujawab dengan orang-orang yang datang
menyakitimu, merendahkanmu,
di situlah kasih-Ku mengalir
Engkau meminta anugerah,
pencobaan-pencobaan telah Kugunakan
membebaskanmu dari kesombongan
dan memperlihatkan kepadamu
dari orang-orang berdosa, engkaulah yang paling berdosa,
di situ anugerah-Ku melimpah.
Engkau meminta lebih mencari wajah-Ku,
itu Kujawab dengan membebaskanmu dari segala
kesenangan duniawi,
dan mengambili apa-apa yang kau kasihi
agar engkau kiranya mencari segala sesuatu di dalam-Ku.
Dan dapat dengan sukacita berkata,
"Jangan biarkan aku hidup dengan bebas dari 'segalanya'
yang mendekatkanku kepada-Mu."

Rabu, 19 November 2008

Narcisisme

KTB staf sekarang bahas buku Pak Yohan Chandawasa yang berjudul "Merupa Hidup dalam Rupa-Nya". Bab 1 membahas tentang Narcisisme. Kata Narcisisme berasal dari tokoh mitos Yunani yang bernama Narcisus. Narcisus adalah seorang pemuda yang ketampanannya luar biasa, tiada tanding di muka bumi ini. Banyak dewi yang jatuh cinta padanya tapi tidak ada 1 pun yang berhasil merebut hati Narcisus. Suatu kali, Narcisus pergi ke sebuah telaga dan ketika dia melongok ke dalam telaga, dia melihat seorang yang tampan luar biasa. Ia sangat terpesona dan berusaha menggapai orang itu. Apa nyana, tiap kali tangannya meraih ke dalam telaga, orang itu selalu menghilang dari pandangannya. Narcisus sangat merindukan orang dalam telaga itu. Ia begitu terpikat sampe akhirnya lupa makan, lupa tidur, bengong di tepi telaga dan akhirnya MATI. Narcisus tidak menyadari bahwa orang di dalam telaga itu adalah bayangannya sendiri. Relasi "aku-engkau" yang dipikirnya sedang dirasakannya, sesungguhnya adalah relasi "aku-aku". Ia mati karena terjebak dalam kekaguman terhadap diri sendiri.

Nah, Pak Yohan membahas Mazmur 73:1-28 yang ditulis oleh Asaf. Asaf adalah seorang keturunan Lewi yang dikhususkan melayani bagian musik oleh Daud. Asaf seorang yang jujur hidupnya dan menjalankan semua ibadah dengan sungguh-sungguh. Tetapi di satu titik, Asaf menyadari bahwa ia hampir tergelincir ketika mengamati hidup orang fasik yang rasanya serba enak, menyenangkan dan tidak ada kesusahan di dalamnya. Dalam mazmur ini tersirat perasaan putus asa, kecewa, kebingungan, frustrasinya Asaf ketika membandingkan diri dengan orang fasik. Sesungguhnya yang terjadi adalah Asaf sedang "memanfaatkan Tuhan" untuk mendapatkan impian/harapan/keinginan/cita-citanya sendiri.

Ketika Tuhan tidak menjawab sesuai keinginan, maka muncullah perasaan sia-sia semua "ibadah" yang dilakukannya. Asaf sedang mengalami narcisisme rohani. Ada kalimat yang sangat indah: Tuhan tidak pernah menyetop keinginan kita kalau keinginan itu dapat membuat kita semakin serupa dengan Kristus. Kalau hal-hal duniawi (yang kita inginkan) dapat membuat kita semakin serupa Kristus, Tuhan pasti akan memberikannya pada kita. Sayangnya, banyak keinginan kita justru hanya menghambat proses pembentukan menjadi serupa Kristus.

Semalam ada seorang teman mensharingkan pokok doa tentang teman lain yang sakit-sakitan. Seorang pria yang berusia 34 tahun, tetapi mengalami sakit silih berganti: dari cuma jatuh dadakan, pingsan, sampe kena hepatitis lalu kena alergi kulit yang parah dan disusul ada kelainan pada sarafnya, dokter bingung memberikan diagnosa dan terakhir tulangnya ada yang keluar. Masuk rumah sakit terus-menerus bagi pria ini jelas sesuatu yang menyakitkan. Ia kehilangan pekerjaannya (sering tepar di RS), dicemooh keluarganya (yang mayoritas agama lain dan masih sering menyarankannya pindah agama atau mencoba cari kesembuhan dengan menghalalkan segala cara) dan terakhir ditinggalkan oleh pacarnya.

Pria ini ada di tahap seperti Asaf, mempertanyakan kenapa ikut Tuhan sangat membuatnya menderita? Tuhan yang seperti apa yang mengizinkan semua ini terjadi pada anak-Nya? Buat apa lagi hidup dengan segala kehilangan dan penderitaan ini? Buat apa lagi susah payah mempertahankan kesalehannya mengikut Tuhan kalau dia harus mengalami sakit penyakit yang tiada hentinya di usia di mana orang lain sedang produktif membina karir dan rumah tangga? Semua terasa sangat menyakitkan!

Buat pria ini, derita yang dirasakannya jelas tidak dapat diobati dengan mengatakan bahwa semua pencobaan tidak akan melebihi kekuatannya. Pria ini mungkin akan marah ketika ada yang mengatakan bahwa anak Tuhan punya Bapa Surgawi yang baik yang akan terus mendampinginya. Dengan sendirinya pria ini akan berespons bahwa semua orang tidak akan mampu mengerti masalahnya, karena biasanya orang lain yang menyarankan banyak kata penguatan, justru tidak mengalami penderitaan seperti pria ini.

Pak Yohan menjelaskan ada 4 fase relasi suami-istri yang dapat disejajarkan dengan relasi aku-Engkau (Allah), sebagai berikut:
1. Fase Romantis: orang yang akan menikah pasti membawa banyak impian. Aku ranting, dia bunganya; dia ikan, aku akuariumnya; aku sakit, dia obatnya. Demikian juga dengan relasi aku-Engkau (Allah). Masa romantisnya dirasakan ketika kita menyanyikan He's everything to me (karya Ralph Charmichael): "Ia bukan Allah yang tinggal jauh dari aku dan yang mengabaikanku, kini aku ditemaniNya dan selalu dijagaiNya, Sepanjang jalanku, Yesuslah hidupku." Wow, rasanya betapa indahnya hidup berjalan bersama Kristus :)

2. Fase Realistis: Setelah tinggal bersama, mulailah pasangan suami-istri mengalami "TIDAK" dalam hidup mereka. Aku begini, dia begitu; aku ke sini, ia ke situ; aku mo yang ini, dia mo yang itu; maka berubahlah pandangan kita tentang pasangan: aku bunga, ia ulat bulunya; aku ikan, dia buayanya; aku sakit, dia virusnya. Relasi kita dengan Allah pun demikian. Dalam bergaul dengan Allah, konsep dan perlakuan kita yang keliru terhadapNya akan dihancurkan oleh Tuhan sendiri melalui "TIDAK" yang disodoorkan dalam hidup kita. Allah akan membuat kita sadar bahwa IA sama sekali bukan bayang-bayang kita, IA sama sekali bukan diri kita saat IA tidak menyembuhkan penyakit kita, tidak melepaskan kita dari kesusahan, mengizinkan musibah terjadi atas hidup kita, membiarkan kita ditinggalkan oleh orang-orang yang kita kasihi atau mengasihi kita, dll.

3. Fase Marah dan Menyesal: Tahap ini adalah tahap di mana semua perasaan indah di masa romantis pernikahan dan pacaran, surut. Sukacita berubah menjadi depresi, fantasi berubah menjadi frustasi. Demikian pula dengan relasi aku-Engkau. Hal-hal yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita itu dapat membuat iman kita goncang, marah, kecewa dan putus asa terhadap Tuhan. Namun, fase ini perlu dialami supaya kita memiliki konsep yang benar tentang Tuhan.

4. Fase Reorientasi: Krisis dalam ikatan perkawinan akan membawa suami-istri ke persimpangan jalan untuk memutuskan "bercerai-berpisah sementara-mulai dari awal. Demikian juga dalam relasi kita dengan Tuhan. Sama seperti yang dialami oleh pria yang gue sharingkan di atas. Ia sedang berada di persimpangan itu. Apakah ia akan tetap mengikut Yesus walau penderitaannya tidak berkurang? Atau sebaliknya ia akan meninggalkan Yesus karena Yesus bukanlah Tuhan yang diharapkannya, bukan Tuhan yang mengabulkan apa yang dimintanya? Dalam hal ini, relasi aku-aku yang dianutnya dapatkah berubah menjadi aku-Engkau?

Gue rasa narcisisme akan tetap menjadi pergumulan manusia selama manusia itu masih hidup dalam daging. Fase-fase pun akan dialami tiap orang silih berganti. Kalau gue udah pernah memasuki fase kekeringan, marah dan kecewa terhadap Tuhan yang tidak menjawab doa gue lalu atas anugerahNya, gue menundukkan diri pada relasi aku-Engkau dan bukan lagi aku-aku; semua ini tidak menjamin kalau gue ga akan pernah marah dan menyesal lagi terhadap Allah yang gue sembah. Tapi sesungguhnya semakin berat ujian, tantangan dan kesulitan itu, di situlah poin Tuhan semakin mempercayai kita! Kalau boleh memilih, tidak ada satu orang pun yang ingin dibentuk Tuhan dengan cara seperti ini :( Semua orang ingin dibentuk dengan cara yang tidak menyakitkan.

Tapi ilustrasi batu berlian yang harus diasah, dikikis dan dibentuk dengan cara yang menyakitkan (kalo si batu bisa merasa ^_^) dapat menolong kita untuk melihat hal positif yang sedang Tuhan kerjakan melalui penderitaan yang diizinkannya terjadi atas hidup kita. Batu berlian itu semakin mahal harganya ketika sudah mengalami kesakitan luar biasa. Ketika ada teman yang sedang dalam pergumulan luar biasa berat, biarlah kita terus mendukungnya dalam doa dengan sepenuh hati karena hanya Tuhanlah yang mampu menjaga mereka supaya memiliki relasi aku-Engkau. Bagian yang dapat kita kerjakan sebagai teman adalah mendampingi teman kita, menggabungkan kekuatan keluarga Allah untuk bergiliran menguatkan sang teman.

So, beranikah meminta ujian kenaikan tingkat dari Tuhan? Jangan takut!!! Karena sama seperti Asaf dan para pemenang iman lainnya, kita akan mengalami kelepasan luar biasa ketika sanggup berkata, "Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya." (Maz 73:25-26)

Rabu, 22 Oktober 2008

Naaman: Panglima yang Kustanya Ditahirkan

Membaca bab yang ditulis Chuck Swindoll tentang Naaman menarik sekali. Gue cari-cari di Ensiklopedia Alkitab Modern ternyata kisah Naaman disinggung oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 4. Di sana dikatakan bahwa ada banyak orang kusta di Israel tapi yang disembuhkan nabi Elisa hanyalah Naaman, orang Siria (atau Aram). Yesus juga menyebutkan dalam ayat sebelumnya bahwa ada banyak janda di Israek yang kelaparan tapi nabi Elia hanya diutus kepada janda Sarfat di Sidon. Ketika Yesus menyinggung topik ini, berarti ada suatu pesan yang penting ingin disampaikanNya. Keselamatan adalah untuk semua orang yang percaya Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat, tanpa orang itu orang Israel atau bukan. Renungkan Yesaya 55 untuk mengerti konsep ini.

Chuck Swindoll menyebut orang-orang ini sebagai para pencari Tuhan. Ada istilah "tepukan di pundak" bagi para pencari Tuhan. Tepukan di pundak itu mengandung undangan, peringatan, janji-janji dan kejutan-kejutan. Ini menunjukkan konsep pilihan Tuhan yang luar biasa dalam hidup anak-anakNya, jauh sebelum mereka percaya padaNya. Untuk dapat merespons "tepukan di pundak" itu, kita dapat belajar dari tokoh bernama Naaman.

Naaman adalah panglima perang yang sangat sukses, sering menang perang dan tentu saja disayang raja Benhadad. Tetapi Naaman ini sakit kusta. Ketika akhirnya Naaman datang ke Israel, ia memiliki kesalahan terbesar, yaitu: membawa harapan, rencana dan pikiran pribadi untuk kesembuhannya, misalnya:
1. Naaman berpikir ia dapat membeli kesembuhannya. Ini terbukti dari betapa luar biasanya "persembahan" yang dia bawa ke hadapan nabi Elisa. Konsep "tidak ada yang gratis di dunia" atau "duit tahu barang" menyatakan kalau kualitas sesuatu itu semakin baik, maka harga yang harus dikeluarkan untuk memiliki sesuatu itu tentu semakin mahal/besar. Konsep seperti ini membuat banyak orang sulit menerima sesuatu yang gratis.

2. Naaman berpikir kalau ia akan disembuhkan oleh orang berdosa lainnya. Ia tidak pernah berpikir akan berjumpa dengan utusan Tuhan Allah Pencipta alam semesta. Ia datang kepada raja Israel dan ia tahu kalau bangsa Israel mayoritas menyembah dewa-dewa asing dan tentu saja ini memberikan kesimpulan baginya bahwa Allah yang disembah Israel adalah Allah yang kurang berkuasa. Kalau Allah Israel berkuasa, kenapa pula orang Israel malah menyembah ilah lain. Konsep ini masih sering nampak di masa sekarang, banyak orang merasa terberkati kalau yang memberikan berkat itu pendeta (bukan penginjil). Banyak orang yang merasa disembuhkan dan keadaannya lebih baik jika didoakan pendeta dan bukan hanya penginjil. Padahal semuanya ini berkaitan antara manusia itu dengan Tuhan Allah sendiri. Hanya Yesus satu-satunya Perantara dan tidak ada jabatan atau posisi apapun yang dapat menggantikan relasi langsung antara kita dengan Pencipta.

Dari semua hal berkaitan dengan Naaman, para pencari Tuhan atau anak-anak Tuhan semua dapat belajar 4 tahapan/langkah sebagai berikut:
1. Akui: keberadaan diri yang penuh dosa. Hanya orang sakit yang menyadari kalau ia butuh kesembuhan. Hanya orang yang sadar kalau ia berdosa maka akan menyadari bahwa ia butuh keselamatan & penyucian Tuhan.

2. Dengarkan: suara-suara kebenaran. Tuhan bisa memakai perkataan orang-orang di sekitar kita. Tapi butuh kerendahan hati untuk mendengarkan itu. Naaman bersedia mendengarkan perkataan budak perempuan kecil, mendengarkan pegawai-pegawainya. Dan yang menarik adalah kalau orang-orang bawahannya dapat memberi masukan padanya berarti ada 1 kesimpulan bahwa Naaman sedikit banyak merupakan orang yang terbuka. Dia keras tetapi terbuka.

3. Stop jalan sendiri & Ikuti jalan Tuhan. Naaman harus menyetop jalan, rancangannya untuk mendapatkan kesembuhan dengan cara mengikuti jalan Tuhan yang dibukakan nabi Elisa. Kalau mau mengikuti jalan Tuhan, langkah pertama yang diambil adalah stop jalan sendiri.

4. Lakukan alias taat. Kunci ketaatan adalah iman, percaya sesuatu yang belum terlihat. Tetapi Tuhan biasanya memberikan kejutan-kejutan ketika kita taat. Naaman mendapat kejutan ketika dia disembuhkan. Betapa bodohnya cara pikirnya selama ini. Ini membuat dirinya memberi respons iman yang luar biasa waktu di bagian bacaan selanjutnya dikatakan bahwa ia hanya ingin menyembah Tuhan Allah Israel dan memohon ampun kalau seandainya ia harus menemani tuannya masuk menyembah dewa lain. Elisa tidak memberi pendapat apapun tentang pemikiran Naaman ini tetapi Elisa hanya mengatakan "Pergilah dengan selamat."

Keempat tahapan di atas selayaknya dijalani satu per satu jika tidak ingin ada ketimpangan dalam pertumbuhan rohani kita. Bisa saja ada orang yang loncat ke tahap 4 tetapi suatu saat ia harus kembali ke tahap 1. Sudahkah kita mengalami keempat tahap di atas?

Rabu, 15 Oktober 2008

Yabes: Seorang Tidak Terkenal yang Menjadi Terkenal

Siapa yang tidak kenal Yabes? Soale di gereja sih udah ada Mezbah Doa Yabes di mana jemaat diizinkan menaikkan doa permintaan. Tetapi ternyata menggali bagian tentang Yabes sungguh menarik. Ternyata Chuck Swindoll juga menulis tentang Yabes dalam bukunya "Kisah-Kisah Menarik Orang-Orangn yang Terlupakan." Berikut ringkasan yang dapat ditulis.

Nama Yabes hanya muncul dalam 2 ayat di 1 Tawarikh 4:9-10 'Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya; nama Yabes itu diberi ibunya kepadanya sebab katanya: "Aku telah melahirkan dia dengan kesakitan. Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya: "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" Dan Allah mengabulkan permintaannya itu.' Uniknya, penulis kitab Tawarikh ini sedang menuliskan silsilah keturunan Yehuda yang cenderung sama. Tetapi di bagian Yabes, ada tambahan keterangan 2 ayat seperti itu.

Chuck Swindoll dengan sangat baik menggambarkan tentang hal ini: Ketika Tuhan berhenti sejenak dan ingin menuliskan lebih jauh tentang seseorang, berarti ada sesuatu yang penting yang Tuhan ingin pembaca menarik pelajaran dari tokoh tersebut. Berarti ada sesuatu berkaitan dengan Yabes yang jauh lebih penting daripada sekedar permintaannya dikabulkan oleh Tuhan.

Ada 3 prinsip yang dapat dipelajari berkaitan dengan Yabes:
1. Awal yang kecil (atau seburuk apapun) tidak menjamin akhir yang pasti kecil (buruk) juga. Yabes memiliki masa lalu yang buruk. Ketika lahir, ia langsung dinamakan Yabes yang artinya senada dengan Pain atau penderitaan, kesakitan. Ia lahir di tengah gurun, sebelum masuk tanah Kanaan, di tengah pergumulan penderitaan bangsa Yahudi. Tetapi Yabes memiliki iman untuk meminta Tuhan menjauhkan arti namanya dari hidupnya. Iman itu berarti berani mempercayakan masa depan kita kepada Tuhan bahwa masa lalu yang seperti apapun juga akan dapat dipakai Tuhan untuk membentuk masa depan yang jauh lebih indah bagi tiap anak-anakNya. Rantai masa lalu yang buruk dapat diputus ketika kita mau hidup beriman pada Tuhan Yesus seumur hidup kita.

2. Kekayaan atau kekuasaan (otoritas) yang besar, tidak akan ada artinya tanpa Tuhan. Yabes sangat merindukan agar "tangan Tuhan menyertainya." Baginya, tangan Tuhan adalah sumber segala sesuatu yang ada padanya. Tangan itu pula yang akan melindunginya seumur hidupnya. Yabes menyadari bahwa ia tidak mampu berbuat apa-apa tanpa tangan Tuhan. Dengan kata lain, sebenarnya ia sedang berkata, "Kalau bukan Tuhan yang memberi dan memelihara, aku tidak mau menerima kekayaan atau kekuasaan itu tapi kalau Tuhan sudah memberi, tolong jangan tinggalkan aku." Suatu doa yang luar biasa yang dipanjatkannya. Orang cenderung sering meminta kepada Tuhan tetapi melupakan Tuhan ketika sudah mendapat apa yang diinginkannya. Menyedihkan, pemberian Tuhan lebih berharga daripada Tuhan, Sang Pemberi itu sendiri. Yabes tidak terjebak dalam pola hidup seperti itu. Doanya jauh lebih dalam daripada itu. Ia merindukan Sang Pemberi senantiasa mengiringi pemberianNya dalam hidup Yabes.

3. Kekayaan atau kekuasaan (otoritas) yang besar selayaknya diterima dengan tanggungjawab tanpa diiringi rasa bersalah. Banyak orang yang merasa tidak layak dan bersalah ketika mendapat kekayaan atau otoritas dalam hidupnya. Rasa tidak layak adalah sesuatu yang baik, menunjukkan kerendahan hati. Tetapi ketika rasa tidak layak itu dibiarkan terlalu menguasai sampai menimbulkan rasa bersalah, kita akan sulit menggunakan apa yang sudah Tuhan percayakan dengan bertanggungjawab. Padahal Tuhan mempercayakan segala sesuatu itu pada diri kita dengan tujuan agar kita dapat menjadi hambaNya yang bertanggungjawab mengelola semuanya itu.

Berikutnya, ada 3 pertanyaan penting yang harus kita jawab ketika mempelajari tentang Yabes:
1. Mungkinkah Tuhan Allah merancang bagi saya sebuah posisi atau otoritas yang besar beserta dengan hak-hak dan tanggungjawab istimewa di dalamnya?
2. Mungkinkah rancangan Tuhan itu MELEBIHI apa yang saya pikirkan selama ini, Tuhan ingin saya punya otoritas mengambil keputusan yang memiliki dampak bagi lingkungan di mana saya hidup sekarang?
3. Apa yang membuat saya belum atau tidak pernah meminta Tuhan memberikan otoritas dan tanggungjawab yang besar selama ini?

Renungkanlah jawaban-jawaban kita dan berusahalah menjawab dengan jujur di hadapan Tuhan. Sejujurnya, pertanyaan ke-1 & ke-2 pasti akan kita jawab MUNGKIN karena kita memang terbatas tapi Tuhan Pencipta kita adalah Tuhan yang tidak terbatas, IA sering memberi kejutan-kejutan yang melampaui akal kita karena IA TUHAN. Pertanyaan ketiga yang lebih dalam dan harus kita renungkan. Buat gue pribadi, gue tidak meminta karena otoritas, kekuasaan, kekayaan, hak istimewa dan segala titipan itu pada akhirnya menuntut tanggungjawab. Semua titipan itu tidak akan menimbulkan iri hati dari orang lain, tetapi pasti ada konsekuensi menjadi sorotan dan kritikan. Dan itu yang gue ga suka. Ketika dipercayakan sesuatu yang menurut gue besar, kadang gue juga merasa tidak layak, guilty dan lebih baik diberikan pada orang lain yang menurut gue lebih baik. Ternyata otak gue meyakini bahwa itu semua titipan tapi hati kecil gue mungkin masih menganggap itu bagian dari milik gue. Karena kalau gue 100% meyakini semua itu titipan dan kepercayaan dari Tuhan, gue seharusnya tidak terganggu dengan sorotan dan kritikan itu. Karena toh gue cuma pengurus milikNya Tuhan, bukan pemilik dari semuanya itu.

Entah bagaimana sikap pembaca-pembaca kisah Yabes yang lain? Gue rasa sih beda-beda tapi kerendahan hati belajar dari Yabes dalam menaikkan doa untuk tidak ragu meminta sesuatu untuk memuliakan nama Tuhan (bukan untuk memuaskan hawa nafsu belaka) akan dikabulkan Tuhan dengan senang hati. Bukankah itu kerinduan kita semua? Dan pastinya juga kerinduan Tuhan Bapa Surgawi yang luar biasa baik hati *.*

Selasa, 14 Oktober 2008

Laskar Pelangi

Buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata memang pantas diacungkan jempol. Ini buku tetralogi tetapi berhubung gue baru baca buku pertama, gue cuma bisa nulis sebatas ini. Cara Hirata mendeskripsikan lokasi, keadaan dan latar belakang budaya tertentu menunjukkan suatu kekayaaan kosa kata yang dimilikinya. Bukan hanya itu, caranya menghidupkan emosi para tokoh di dalamnya juga sangat mempengaruhi emosi pembaca. Gue belum nonton filmnya, tapi rencana sih mo beli buat koleksi jika DVD originalnya sudah keluar.

Cerita dimulai dengan latar Sekolah Muhammadiyah di Belitong yang sangat minim fasilitas, tenaga pengajar bahkan juga terancam tutup jika jumlah murid <10 anak. Orang-orang di sana sangat miskin, ironis dengan kekayaan alam yang hanya dapat dirasakan oleh segelintir orang yang membangun benteng sendiri di sebuah kota mandiri. Pengarang menggambarkan kecemasan yang dirasakan oleh kepsek dan guru, cemas sekolah akan ditutup dan mereka tidak dapat membagikan ilmu lagi. Orangtua murid cemas memikirkan biaya sekolah dan seandainya tidak jadi sekolah mereka berpikir memang menyuruh anak bekerja akan jauh lebih baik. Anak-anak ingin sekali sekolah dan mereka cemas karena terancam tidak akan bisa merasakan itu semua jika sekolah ditutup. Akhirnya murid ke-10 yang datang adalah seorang anak yang terjebak dalam tubuh dewasa (retardasi mental). Tapi intinya, sudah ada 10 murid jadi sekolah tetap dibuka. Dan dimulailah kelompok murid baru (nantinya dinamakan Laskar Pelangi-karena mereka semua suka melihat pelangi) ini merasakan suka-duka sekolah.

Ada beberapa pelajaran yang bisa ditarik dari buku ini:
1. Nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil sangat berperan dalam pembentukan nilai-nilai dan tingkah laku orang itu ketika dewasa. Nilai yang ditanamkan oleh kepsek di penerimaan murid baru sangat mereka pegang sampai dewasa: "Seseorang harus memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya." Setinggi apapun ilmu yang dimiliki kalau tidak bisa memberikan dampak bagi diri sendiri dan lingkungan, dunia dan akhirat maka itu tiada guna.

2. Bakat alam adalah karunia. Tapi kesempatan pun adalah karunia yang tidak kalah pentingnya. Lintang yang genius tidak dapat menamatkan SMP karena ayahnya meninggal dan ia anak sulung sehingga beban hidup 14 orang dalam keluarganya langsung jatuh ke pundaknya. Gue paling sedih membaca kisah Lintang ini. Rasanya waktu nulis ini pun air mata gue udah mengambang di pelupuk. Berapa banyak anak-anak di Indonesia yang pintar tetapi tidak punya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan terpaksa menggunakan otot fisik untuk mencari nafkah seadanya dan akhirnya bakatnya terpendam begitu saja? Mahar pun sampai SMP baru ketahuan bakat otak kanannya dan itu pun karena pintu kesempatan yang selama SD (6 tahun) tidak pernah terbuka baginya.

3. Hargailah & bertanggung-jawablah untuk tiap kesempatan yang ada, sekecil apapun itu. Mahar yang pendidikannya hanya sampai SMP, tidak dapat melanjutkan pendidikan. Dia menganggur selama beberapa waktu. Sampai akhirnya ia melamar untuk menulis tentang suatu budaya. Hanya usaha kecil-kecilan dan ia lakukan dengan bertanggung jawab akhirnya makin bertambah kepercayaan orang padanya. Sampai akhirnya ia menjadi penulis terkenal. Ia tahu kapasitasnya dan ia bersedia melakukan mulai dari nol, bahkan hal-hal yang awalnya kurang berhubungan dengan yang diinginkan atau dicita-citakannya.

4. Teman adalah harta yang sangat berharga yang dititipkan Tuhan pada kita. Jalinlah relasi dengan mereka selama waktu yang memungkinkan. Zaman sudah canggih, orang-orang tinggal sejauh sms dan email saja. Kenapa tidak sesekali waktu menghubungi teman-teman yang sudah lama tidak tahu kabarnya? Sangat mengharukan melihat Trapani yang mother complex berada di Rumah Sakit Jiwa bersama ibunya. Si ikal (penulis), teman lama Trapani tidak mengenalinya lagi sampai ketika Trapani yang sudah hilang kesadaran itu ternyata mengenali Ikal dan memanggil namanya. Betapa dalamnya relasi kanak-kanak mereka dulu. Sayang waktu membuat mereka putus hubungan sampai akhirnya salah satu berakhir di RSJ karena tidak kuat menanggung masalah hidup. So, jangan tunggu salah seorang teman lama memanggil namamu ketika dikau berkunjung ke RSJ. Segeralah kirim sms atau email singkat kepadanya.

5. Tidak ada cara singkat untuk mencapai sesuatu. Semua harus lewat proses dan ada harga yang dibayar untuk hasil maksimal yang diharapkan. Mahar dan Flo adalah anak yang sangat mempercayai dunia mistis dan pada akhirnya ketika bertemu dukun, yang didapatnya hanya 1 kalimat: "Jika mau nilai bagus, BUKA BUKU DAN BELAJAR!" Ini berlaku bukan hanya untuk mendapat nilai bagus. Segala sesuatu di dunia ini harus diraih dengan pengorbanan. Hanya iblis yang menawarkan cara singkat tetapi akhirnya menjerumuskan dan meminta tumbal yang jauh lebih mahal, yaitu nyawa kita sendiri.

6. Kekayaan adalah sesuatu yang fana. Seperti bianglala di dufan (dunia fantasi), kadang seseorang berada di atas dan kadang di bawah. Kekayaan segelintir orang-orang di balik "tembok besar Belitong" yang menguras sumber daya alam itu akhirnya berakhir. Bodohlah orang jika hidup di dunia ini hanya mengejar kekayaan dan menganggap bisa memilikinya seumur hidup. Tidak ada rasa aman dengan bertambahnya kekayaan karena ia sifatnya fana dan ia bisa menikah dengan siapapun alias kekayaan itu bisa berpindah tangan dengan sangat cepat. Ia tidak mengenal pemilik. Jadi, kejarlah sesuatu yang lebih berarti dari kekayaan.

Sebenarnya masih banyak lagi pelajaran yang bisa digali dari buku ini tetapi berhubung gue udah capek ngetik dan pengen minum, cukup sampai di sini aja ceritanya. Semoga ini dapat mendorong orang untuk membaca atawa menonton filmnya. Karya-karya anak bangsa yang bagus harus dihargai sehingga mereka tidak mati, melainkan dapat terus berkarya dan memajukan bangsa kita tercinta ini karena suatu karya yang baik akan menginspirasikan karya berikutnya dari orang-orang yang lainnya. Semoga... Semoga...

Kamis, 09 Oktober 2008

Rehabeam: Seorang Munafik yang Sembrono

Rehabeam adalah anak Salomo (cucu Daud) yang menjadi raja Israel. Ia menjadi raja ketika berumur 41 tahun. Bayangkan kemewahan yang didapatnya sebagai pangeran di masa kerajaan Salomo. Melalui buku "Kisah-Kisah Menarik Orang yang Terlupakan," karya Chuck Swindoll, ada beberapa hal yang dapat dipelajari sebagai berikut:

1. Rehabeam dikatakan sbg orang munafik karena mencari saran dari orang lain dengan memiliki pendapat pribadi yang sulit diubah sehingga tujuannya mencari orang adalah hanya untuk mendapat dukungan atau legitimasi. Rehabeam meminta usulan para tua-tua ketika rakyatnya meminta keringanan pajak. Sebenarnya kemungkinan dalam hati dia sudah memiliki pendapat sendiri. Ketika tua-tua memberi saran yang tidak disukainya, ia meminta saran dari orang-orang muda yang akhirnya memberi saran sesuai dengan yang diinginkannya. Endingnya tentu saja Rehabeam memilih saran dari orang-orang muda karena cocok dengan pemikirannya. Betapa banyaknya orang seperti ini dalam dunia. Kadang-kadang, gue juga termasuk salah satunya. Dalam kasus terdekat, misalnya beberapa waktu yang lalu, gue baru tau kalo di kantor baru gue, karyawan tidak mendapat 12 hari cuti selama 1 tahun pertama. Tadinya gue berpikir bahwa karyawan tidak boleh ambil cuti selama 1 tahun pertama tapi di bulan ke-13, karyawan berhak atas 12 hari cuti (jatah 1 tahun yang lalu yang tidak boleh diambil). Tapi ternyata, benar-benar ga dapat 12 hari itu! Ketika gue sharing ke beberapa orang, gue sangat senang ketika ada orang yang mendukung gue bahwa 12 hari cuti itu adalah hak karyawan. Dan gue rada bete ketika ada orang yang mengatakan itu hak perusahaan untuk mengatur. Padahal GM gue memberikan masukan bahwa tidak apa-apa kalau gue mo buat daftar pembanding/semacam usulan dan HRD perusahaan akan mendiskusikannya. Tapi ketika gue mencari usulan dari banyak pihak, gue merasa akhirnya ga obyektif lagi, gue hanya mencari pembenaran diri sendiri. Menyedihkan...

2. Rehabeam memiliki kebiasaan dan hobi yang buruk yang dicontohnya dari ayah dan kakeknya. Ayah dan kakeknya laki-laki yang beristri dan bergundik banyak. Rehabeam yang dianggap munafik awalnya memilih sepupunya sebagai istri. Dan ini baik dalam pemandangan tradisi dan hukum Israel. Kemungkinan Rehabeam melakukan ini demi nama baiknya. Tetapi akhirnya Rehabeam malah lebih mencintai istri-istrinya yang lain, yang bukan dari suku Israel dan tidak mengenal Tuhan. Semasa kecil, gue memiliki banyak kepahitan dengan mama, gue banyak ga suka dengan cara pikir dan tingkah-lakunya. Tapi akhirnya gue terpaksa harus mengakui kalo hal-hal yang gue ga suka dari mama itu justru melekat pada diri gue sendiri. Bersyukur bahwa di dalam Kristus, belenggu masa lalu itu dipatahkan. Ketika berani mengakui hal-hal yang tidak disukai itu ternyata ada pada diri gue sendiri, itulah langkah awal pemulihan diri gue. Setiap orang pasti dibentuk oleh orangtuanya. Maklum ortu kan arsitek keluarga. Tapi orang Kristen ga perlu putus asa dengan masa lalu yang kelam karena tidak ada yang mustahil buat Tuhan. Dalam kelemahanlah kuasa Tuhan akan dinyatakan, asal kita percaya pada-Nya dengan segenap hati.

Nah, belajar dari Rehabeam, kita semua perlu terbuka dengan pemikiran-pemikiran orang lain yang bahkan berbeda dari pemikiran kita. Pikiran kita pribadi seringkali terdistorsi, solusi yang kita anggap benar ternyata salah karena kita hanya memandang dari 1 sisi. Dan sungguh merupakan karunia jika Tuhan kasih orang-orang yang "sulit" karena orang-orang sulit itulah yang menolong kita melihat dari sudut yang berbeda. Dengan suatu kerendahan hati untuk mendengarkan (bukan sekedar mendengar loh) mereka, kita memiliki kekayaan untuk melihat dengan lebih jernih dan akhirnya tidak terperosok ke dalam dosa Rehabeam, dosa di mana kita semua punya potensi untuk melakukannya.

Jumat, 19 September 2008

Dunia Mimpi

Menarik sekali bernostalgia dengan komik zaman dulu. "Kanata Kara" alias "Dunia Mimpi" adalah komik yang bagus dan ingin membaca ulang. Thanks God, dengan adanya internet, berhasil membaca ulang dengan sudut pandang yang berbeda. Walau isi ceritanya tidak seluruhnya benar dari sudut pandang Teologi ^_^ tapi ada hal-hal menarik yang pantas dipertimbangkan.

Noriko adalah gadis SMA, 18 tahun hidup di Jepang dan beberapa kali memimpikan suatu tempat yang sama. Sampai suatu ketika dia mengejar sebuah bola yang berhenti tepat di depan kantong berisi bom yang meledak. Waktu bom itu meledak, teman-teman Noriko & orang-orang di Jepang tidak berhasil menemukan tubuh Noriko. Noriko sendiri melayang dan sempat menyaksikan dirinya menjauh dari orang-orang di Jepang. Ia masuk ke dalam suatu hutan di dunia yang berbeda.

Di sanalah ia berjumpa dengan Izaku yang berniat membunuh "sang pencerah" yang diramalkan akan muncul di hutan itu. Izaku tidak menyangka kalau sang pencerah itu hanyalah gadis kecil yang tampak lemah dan tidak bisa apa-apa. Jadinya, Izaku malah menolong Noriko dari berbagai ancaman hewan-hewan aneh di hutan itu. Noriko lemah dan ketakutan, Izaku kuat dan serba bisa (maklum ksatria gitu loh). Dimulailah petualangan Izaku dan Noriko dalam dunia itu. Noriko belajar bahasa baru karena awalnya ia dan Izaku tidak saling mengerti bahasa masing-masing. Seiring dengan berjalannya waktu, Noriko tambah mampu bertahan di dunia itu. Izaku yang ternyata memiliki sisi gelap dalam dirinya semakin sering bersama Noriko jadi semakin bertambah terpuruk.

Di sisi lain, mereka sudah sulit berpisah karena sudah jatuh cinta satu sama lain. Izaku juga tidak sampai hati meninggalkan Noriko yang dengan takdirnya sebagai sang pencerah, menjadi rebutan banyak pihak sementara Noriko tidak punya kemampuan apa-apa untuk mempertahankan diri. Sampai suatu titik Izaku berubah wujud menjadi monster di hadapan Noriko. Yang menarik adalah Noriko tidak meninggalkan Izaku. Dan kenyataan ini sudah cukup bagi Izaku untuk berjuang mengalahkan sisi gelap dari dirinya. Izaku yang sejak kecil dianggap monster dan ditolak oleh ibu kandungnya sendiri akhirnya menemukan penerimaan diri yang diberikan oleh Noriko.

Kyoko Hikawa menceritakan kisah ini dengan sangat menarik. Ending kisah ini pun bagus, bahwa:
1. Tidak ada manusia yang sempurna. Ortu bisa aja menolak/membuang anaknya sendiri. Masa kecil selalu memiliki pengaruh dalam pertumbuhan manusia, termasuk dalam hal ambisi (yang diinginkan) ataupun yang berusaha dihindari.
2. Iblis memakai kelemahan manusia, kejadian masa kecil yang telah membentuk seseorang pada akhirnya dapat dipakai Iblis untuk mengikat orang itu. Iblis bisa menawarkan terang palsu (jalan keluar/kekuatan tak terhingga) tapi pada akhirnya orang itu akan menjadi budaknya, binasa bersama si iblis selamanya.
3. Manusia membutuhkan penolong untuk melihat dan mengalami pencerahan dari dunia yang telah dikuasai iblis. Karena selama ini manusia tidak bisa keluar dari kegelapan dan kuasa iblis yang telah mencengkeramnya. Penolong itu harus berasal dari dunia yang berbeda, yang belum tercemar oleh kerusakan. Penolong itu harus memiliki hati yang bersih dan semangat mengasihi manusia-manusia yang telah dikuasai kegelapan itu.
4. Komik ini menggambarkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri, manusia yang hidup menyayangi alam dan manusia lainlah yang akan mengalami kepuasan/kepenuhan dalam hidupnya. Kasih mengatasi segala kesulitan dan tantangan hidup. Kasih membuat seseorang bertahan dan memotivasinya mengambil keputusan demi kebaikan orang yang dikasihinya.

Walau komik ini hanya fiksi, belajarlah melihat hal positif yang terkandung di dalamnya. Walau pengarangnya tidak belajar teologi, pembaca tetap dapat mempelajari hal-hal positif di dalamnya. Jadi, benarlah perkataan seseorang bahwa "Orang cenderung melihat dan berpikir sesuai dengan konstrual (opini) awalnya." Mungkin tulisan ini hanya bersifat pembenaran diri yang dilakukan. Tapi intinya, dunia akan menjadi lebih indah jika kita belajar melihat segala sesuatu dari sudut yang positif. Tentu saja, ada hal-hal negatif yang harus dilihat tapi akan terasa lebih ringan dan mampu dihadapi ketika kita fokus pada hal-hal positif... Met melihat dunia dengan kacamata positif sehingga tidak perlu pergi ke dunia mimpi untuk mengalaminya :)

Rabu, 17 September 2008

Abigail: Perempuan yang Menyelamatkan Suaminya

Menjadi seorang wanita sungguh berat di zaman dulu (sekarang juga kayaknya sama beratnya hehehe). Wanita cantik seperti Abigail bisa-bisanya menikah dengan seorang pria bernama Nabal (yang kelakuannya sama dengan namanya, bebal, kasar dan tidak tahu aturan). Zaman dulu kan emang wanita tidak bisa memilih suami, jadi harus nurut ama pilihan keluarga. Demikian juga dengan Abigail.

Menariknya, Abigail yang memiliki suami kasar ini, justru melindungi dan menyelamatkan nyawa si suami dari Daud yang murka karena kata-kata kasar dan tidak tahu berterimakasih dari si Nabal. Dari buku Charles Swindoll "Kisah Menarik Orang-Orang yang Terlupakan" ini, dapat dipelajari hal-hal sebagai berikut:

1. Orang pilihan Tuhan dan bukan orang pilihan Tuhan sama-sama bisa marah. Sama-sama bisa tidak berpikir panjang dan di suatu titik bisa aja bertindak terburu-buru, tidak pikir panjang, tidak bijaksana gara-gara dikuasai kemarahan. Tapi hati orang pilihan Tuhan berdetak selaras dengan hati Tuhan, berarti orang itu mau mendengarkan teguran yang disampaikan oleh orang lain (utusan Tuhan supaya anak-Nya tidak melakukan dosa). Jadi, dengarkanlah teguran dari orang-orang yang mengasihi Tuhan.

2. Dalam keadaan marah, orang cenderung terburu-buru dan ingin memuaskan alias melampiaskan kemarahan itu. Dan dampaknya selalu buruk bila itu dilakukan. Jadi, daripada marah-marah ga karuan dan mengeluarkan kata-kata yang menusuk dan menyakitkan orang lain, lebih baik diam dulu sampai kepala dingin, kemudian bicarakan baik-baik (ini mustahil dilakukan dengan hati panas). Jadi, tariklah nafas panjang, hitung sampai 10 sebelum melampiaskan kemarahan kepada seseorang.

3. Orang yang tidak peka akan menyakiti hati orang-orang di sekitar. Kepekaan berkaitan erat dengan ketaatan. Kalau kepekaan selalu diikuti ketaatan, maka kepekaan akan makin terasah. Demikian juga sebaliknya, lama-lama kepekaan bisa aja makin tumpul karena tidak dipraktekkan dengan ketaatan. Ketaatan berarti berintegritas, melakukan bagian diri sendiri dan menyerahkan bagian lain ke dalam tangan Tuhan. Jadi, ketaatan selalu menuntut suatu pengorbanan. Yang pasti Tuhan tidak pernah berhutang, Tuhan selalu memberikan ganjaran setimpal untuk ketaatan dan sebaliknya, ada konsekuensi di balik suatu ketidaktaatan. Jadi, belajarlah peka terhadap apa yang Tuhan inginkan dari diri kita. Kemudian taatlah apapun harga yang harus dibayar.

4. Abigail adalah perempuan yang penuh hikmat. Dia tahu kapan harus bertindak/berkata-kata dan kapan harus berdiam diri. Ini dikarenakan selama ini Abigail selalu berusaha taat dalam hidup rumah tangganya. Ia melakukan perbuatan baik pada suami yang tidak baik bukan karena suaminya layak menerima itu tetapi karena Abigail adalah orang yang baik. Jadi, teladanilah Abigail, pandai-pandai mengatur perkataan yang keluar dari mulut kita. Diam tidak selamanya emas tetapi waspadalah karena mulutmu harimaumu. Kata-kata yang keluar dapat menjatuhkan atau membangun orang lain. Kalau bisa membangun, kenapa kita harus menjatuhkan orang lain? Contohlah Abigail. Seorang wanita yang luar biasa, sanggup memilih kapan harus berkata-kata dan kapan harus berdiam.

Menjadi seorang wanita berarti menerima peran untuk menolong pria, dan bukan sebaliknya malah merongrong pria. Jalanilah peran ini dengan sukacita karena upahnya besar di Surga. Berbahagialah, para wanita ^_^